Beberapa pekan ini di media cetak maupun digital hewan ini (baca: Tomcat) menjadi buah bibir masyarakat di Jawa Timur maupun di Jawa Tengah akibat racun yang ditimbulkannya.  Apabila merasa terancam sebagai bentuk pertahanan diri maka tomcat ini akan mengeluarkan cairan hemolimfe yang berisi zat paederin (C25H45O9N) suatu zat iritan yang kuat yang dapat menimbulkan reaksi gatal dan rasa terbakar, eritema. Mengingat akibat yang ditimbulkannya cukup mengkhawatirkan maka kita harus mengenal lebih dekat si Tomcat ini, agar kita bisa menghadapi wabah ini dengan bijaksana.  Dinamakan “Tomcat” karena serangga ini bentuk badannya mirip pesawat tempur buatan USA Tomcat (F14).  Disebut juga Rove Beetle atau Kumbang penjelajah/pengelana karena aktif berjalan-jalan di habitatnya (sawah).  Serangga ini apabila merasa terusik akan menaikkan bagian abdomen sehingga nampak seperti kalajengking. Secara ilmiah serangga ini di klasifikasi sebagai Ordo Coleoptera, family staphylinidae, genus Paederus, species fuscipes.

Tomcat: Predator Sahabat Petani
Tomcat: Predator Sahabat Petani

Sebagai alinea pembuka pada tulisan ini kami akan mengingatkan kembali akan pentingnya pendidikan lingkungan hidup (PLH).  Menurut Horn dalam Saveland (1976): PLH adalah suatu proses pengenalan nilai dan konsep dalam usaha mengembangkan sikap dan ketrampilan untuk memahami dan menghargai hubungan timbal balik antara manusia dengan kebudayaan dan lingkungan biofisiknya.Oleh karena PLH ini adalah suatu proses, maka yang terutama menjadi fokusnya adalah belajar bagaimana memecahkan dan mencegah masalah-masalah lingkungan hidup secara efektif. Dengan kata lain PLH adalah suatu proses pengenalan nilai dan konsep dalam usaha mengembangkan sikap dan ketrampilan untuk memahami dan menghargai ekosistem, dimana manusia itu tinggal, misal di kota, desa, hutan, gunung dan sebagainya. Berangkat dari definisi tersebut diatas maka mewabahnya tomcat ini harus disikapi dengan pendekatan ekosistem.

Merebaknya si Tomcat ke pemukiman penduduk disinyalir karena rusaknya habitat yang disebabkan alih fungsi lahan sawah menjadi pemukiman (real estate) sehingga persediaan pakan serangga di sawah berkurang. Beralihnya fungsi lahan dan pemakaian pestisida yang kurang bijaksana menyebabkan Tomcat berekspansi ke pemukiman.  Pestisida antara lain digunakan petani untuk mengendalikan hama tanaman.  Penggunaan pestisida oleh petani semakin berlebihan karena pemilihan jenis dan cara aplikasi yang kurang efektif dan efisien sehingga manfaat yang diperoleh petani semakin menurun (Untung, 1996). Serangan hama antara lain disebabkan terganggunya keseimbangan populasi organisme pada jenjang populasi tertentu.  Penyebabnya adalah faktor lingkungan dan juga faktor di dalam populasi sendiri, yang mengendalikan perkembangan populasi tersebut (Sosromarsono & Untung, 2006).  Salah satu faktor lingkungan yang mengendalikan populasi hama adalah musuh alami baik berupa predator, parasitoid, maupun patogen. Musuh alami dikenal sebagai faktor pengatur dan pengendali populasi serangga hama yang efektif karena sifat pengaturannya yang tergantung kepadatan populasi (Untung,1996).

Ciri-ciri predator yang unggul adalah mampu memangsa dan tanggap terhadap peningkatan populasi mangsa (Taulu, 2001).
Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae) merupakan salah satu predator yang sering ditemukan pada tanaman padi maupun tanaman palawija lainnya.

Karakteristik Biologi Paederus fuscipes Curt.
Siklus hidup P. fuscipes berkisar antara 38 – 75 hari, lama hidup imago 19 – 46 hari, stadia telur adalah 4 – 7 hari, larva instar-1 selama 4-5 hari, instar-2 selama 6-9 hari, pra pupa selama 2-3 hari, dan pupa 3-5 hari. Jumlah telur yang dihasilkan imago betina P. fuscipes, berkisar antara 18-28 butir.  Menurut  Claussen (1972), jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina berkisar antara 20-30 butir.  Rata-rata peletakan telur tiap betina adalah 23,7 butir telur dan rata-rata telur yang menetas adalah 19,8 butir telur, dengan persentase penetasan telur 84%. Imago P.fuscipes sering berada di atas permukaan tanah atau pada bagian-bagian tersulit pada tanaman dengan berjalan melalui dahan atau batang daun kemudian mencari mangsa pada daun atau tajuk-tajuk tanaman.

Berhubungan dengan kegiatannya dalam mencari mangsa dan mobilitas yang sangat tinggi, serta ditunjang dengan bentuk tubuh yang cenderung pipih, P. fuscipes dapat bergerak dengan lincah pada tempat-tempat yang sempit, atau menyebar pada permukaan tanah yang luas dan mencari makanan pada tempat lain apabila pada tanaman utama tidak ditemukan mangsa.  Pada tanaman kedelai P.fuscipes biasa memangsa nimfa kutu kebul (Bemicia tabaci) kecepatan memangsa terhadap nimfa kutu kebul  berkisar 0,83-8,17 nimfa per jam pada siang hari, dan 0,75-8,00 nimfa per jam pada malam hari (Jurnal Agrikultura, 2009 hal.204).  Sedangkan kemampuan memangsa imago P. fuscipes terhadap wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) adalah sekitar 3,58 nimfa per hari, selain itu diketahui sangat potensial sebagai musuh alami terhadap hama putih palsu, nimfa wereng daun hijau, dan wereng punggung putih (BBPOPT,1992). Kemampuan memangsa P.fuscipes terhadap hama perusak daun/polong kedelai diketahui sangat efektif (Winasa W, D.Hindayana dan S. Santoso, 1999).Pelepasan predator P.fuscipes pada pertanaman kedelai baik fase vegetatif maupun generatif dapat menekan secara nyata perkembangan hama perusak daun/polong kedelai (Helicoverpa armigera) baik telur maupun larva.

Bagaimana kumbang ini bisa berperan sebagai “musuh” bagi manusia?
Kumbang Tomcat/Paederus fuscipes datang ke pemukiman penduduk bukan untuk    menyerang manusia, tetapi karena tertarik cahaya lampu.  Kumbang Tomcat tidak menggigit atau menyengat apabila tergencet tubuhnya mengeluarkan cairan hemolimfe, berisi zat paederin yang bisa menimbulkan iritasi kuat disertai reaksi gatal dan rasa terbakar.  Kulit yang terkena (biasanya daerah kulit yang terbuka) dalam waktu singkat akan terasa panas.  Setelah 24-48 jam akan muncul gelembung pada kulit, dengan sekitar berwarna merah yang menyerupai luka bakar karena tersiram air panas.

Upaya Pencegahan

  1. Jika menemukan serangga kumbang ini (Tomcat/Paederus), jangan di pencet, agar racun tidak mengenai kulit.  Segera cuci dalam air mengalir dengan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini.
  2. Datang kelayanan kesehatan terdekat, kemudian akan diobati dengan tatalaksana sebagaimana pengobatan dermatitis contact irritant, seperti pemberian krim kortikosteroid.
  3. Kompres kulit dengan cairan antiseptic dingin bila timbul lesi seperti luka bakar.
  4. Bila lesi sudah timbul pecah, dapat diberi krim antibiotik dengan kombinasi steroid ringan.
  5. Jangan di garuk atau ditaburi bedak agar tidak terjadi infeksi sekunder.
  6. Beri antihistamin dan analgesic oral untuk simptomatis.
  7. Jika menemukan serangga ini jangan dipencet agar racun tidak mengenai kulit
  8. Hindari terkena kumbang ini pada kulit terbuka.
  9. Bila kumbang hinggap di kulit, singkirkan secara hati-hati dengan cara meniup atau menggunakan kertas.
  10. Jangan menggosok kulit dan atau mata bila kumbang ini terkena kulit.
  11. Segera cuci dengan air mengalir dan pakai sabun pada kulit yang bersentuhan dengan kumbang.
  12. Usahakan pintu tertutup dan bila ada jendela diberi kasa nyamuk untuk mencegah kumbang ini masuk.
  13. Bersihkan lingkungan rumah, terutama tanaman yang tidak terawat yang ada disekitar rumah yang bisa menjadi tempat kumbang Paederus

Pemahaman yang benar dan tanggap tentang bahaya Tomcat disikapi dengan pendekatan ekosistem mengingat peran serangga ini sebagai predator cukup membantu petani, namun mengaitkannya dengan kondisi di lapangan perlu memperhatikan berbagai faktor.  Apakah masih mau membrantas serangga predator ini secara membabi buta? (Urip SR)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here