Jagung batik, mendengar kata tersebut mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah jagung dengan motif batik, namun dalam kenyataanya adalah jagung dengan bulir yang berwarna campuran antara kuning dengan hitam,dengan komposisi warna acak. selain itu yang membuatnya unik, jagung ini memiliki tongkol yang juga berwarna hitam.

Jagung Batik ini merupakan hasil  fenotif (F2) persilangan antara jagung bulir hitam dengan jagung bulir kuning. Dalam proses persilangan tersebut gen jagung bulir hitam dan bulir kuning mengalami epistasis-hipostasis, yaitu suatu peristiwa dimana suatu gen dominan menutupi pengaruh gen dominan lain yang bukan alelnya. Gen yang menutupi disebut epistasis, dan yang ditutupi disebut hipostasis. Pada peristiwa ini, jagung Bulir hitam dan kuning berada bersama dan keduanya dominan, tetapi karakter yang muncul adalah hitam. Ini berarti hitam epistasis (menutupi) terhadap kuning dan kuning hipostasis (ditutupi) terhadap hitam.

Varietas dari jagung hitam asal China ini sulit ditemukan di daerah Jawa, namun di daerah Sulawesi Selatan jagung ini sudah dikenal luas, dan dikenal dengan sebutan Dallesure (jagung lokal dari Tana Toraja). bahkan di sekitar pekarangan  Laboratorium Pengamat Hama dan Penyakit Luwu di Provinsi Sulawesi selatan sengaja ditanam dan dikembangkan varietas tersebut. Sama halnya dengan sulitnya menemukan tongkol jagung hitam di pasaran, mendapatkan bibit jagung hitampun bukanlah hal yang mudah.  Jika ada, harga bibitnya juga luar biasa mahal, Salah satu agen penjual bibit tanaman langka di Indonesia menjual 5 bulir benih jagung hitam dengan harga Rp. 12.000,- dan 1 tongkol jagung hitam manis sepanjang 20cm dijual dengan harga Rp. 10.980,-.
Ditinjau dari segi rasa, jagung batik tidaklah terlalu berbeda dengan jagung manis pada umumnya, Menurut sebagian orang yang mengatakan rasanya seperti ketan hitam, lebih manis dan pulen. Di sisi lain, jagung batik ini memiliki daya tarik tersendiri karena warnanya yang unik, sehingga bagi yang belum pernah memakannya akan merasa penasaran untuk mencicipinya.

Jagung batik ini adalah hasil persilangan jagung hitam, yang sudah ditanam oleh suku Aztec kuno sejak 2.000 tahun yang lalu, Varietas jagung hitam yang populer ini sangat toleran terhadap kekeringan, memiliki rasa yang manis lezat dan layak tumbuh di kebun modern saat ini. Jagung batik/hitam bukanlah varietas jagung untuk pakan ternak, tetapi jagung ekslusif yang mengandung daya magnet yang dapat membuat setiap kalangan tertarik untuk mencicipinya. Jagung batik/hitam memiliki kandungan antioksidan dan Yodium yang dapat mencegah atau memperlambat kerusakan oksidatif pada tubuh kita, yaitu menguatkan kekebalan tubuh, mengurangi resiko terjadinya penyakit jantung dan kanker.

Seperti halnya tanaman jagung kuning, jagung batik ini pun tak luput dari masalah serangan hama dan Penyakit, Hama yang sering menyerang, diantaranya adalah hama Penggerek Batang jagung (Ostrinia furnacalis Guen ), Penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera), Lalat bibit (Atherigona sp), dan Tikus. sedangkan untuk penyakit diantaranya adalah Bulai (Peronosclerospora maydis), Bercak Daun (Bipolaris maydis), hawar daun (Helminthosporium turcicum), Karat (Puccinia polysora), busuk pelepah (Rhizoctonia solani), dan Busuk Tongkol (Diplodia maydis).  Akan tetapi masalah serangan hama dan penyakit pada jagung ini dapat diatasi dengan pengendalian kultur teknis, pengendalian hayati dan pengendalian kimiawi. Dengan harga jual yang cukup tinggi, jika bibit tersedia, jagung batik tampaknya dapat dijadikan alternatif untuk dibudidayakan secara komersial di lahan pertanian. (Dwitya) –photo: Dwitya & Bunyamin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here