Penyakit kerdil rumput tipe 2 bukanlah penyakit baru, tetapi jarang dijumpai sehingga petani  dan petugas  kurang memahaminya.

Gambar 1. Warna kuning pada tanaman padi yang terinfeksi penyakit kerdil rumput tipe 2
Gambar 1. Warna kuning pada tanaman padi yang terinfeksi penyakit kerdil rumput tipe 2

Tanaman padi sehat, bebas dari hama dan sukses panen adalah harapan semua petani. Tetapi bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya. Butuh usaha, keuletan, kesabaran dan pengalaman. Salah satu faktor kuncinya adalah mengenal OPT dan gejala serangannya. Banyak petani maupun petugas yang masih belum paham terhadap gejala serangan OPT, terutama gejala yang hampir sama. Salah satu contohnya adalah gejala penyakit kerdil rumput tipe 2. Berbeda dengan penyakit kerdil rumput yang memiliki ciri gejala tanaman kerdil, jumlah anakan banyak sehingga menyerupai rumput, daun pendek dan kaku, penyakit kerdil rumput tipe 2 memiliki ciri tanaman tidak kerdil, jumlah anakan normal atau lebih sedikit. Ciri khasnya adalah daun berwarna kuning oranye, mengering dan tidak muncul malai. Warna kuning inilah yang menyebabkan kesalahan identifikasi terhadap penyakit tersebut. Tidak jarang petani dan atau petugas menduga gejala tersebut sebagai gejala infeksi virus tungro atau gejala fisiologis seperti kahat unsur hara. Penyakit kerdil rumput tipe 2 bukanlah penyakit baru, tetapi jarang dijumpai sehingga petani dan petugas kurang memahaminya.

Gambar 2. Sampel tanaman padi asal Desa Cempaka Putih, Kecamatan mappedeceng, Luwu Utara
Gambar 2. Sampel tanaman padi asal Desa Cempaka Putih, Kecamatan mappedeceng, Luwu Utara

Kasus penyakit kerdil rumput pernah terjadi di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan pada Bulan Mei 2014 lalu di Desa Kapidi dan Cempaka Putih, Kecamatan Mappedeceng, Luwu Utara. Semula petani dan petugas menduga daun tanaman padi berwarna kuning tersebut merupakan gejala penyakit tungro.Tim Fitopatologi Laboratorium PCR Balai Besar Peramalan OPT melakukan pengujian terhadap sampel tanaman yang diduga terkena infeksi virus tungro tersebut. Pengujian yang dilakukan meliputi pengamatan gejala secara morfologi dan deteksi dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction).

Rangkaian pengujian meliputi ekstraksi RNA, RT PCR, dan Elektroforesis. Pengujian dilakukan dengan mengambil daun yang menunjukkan gejala dari tanaman yang terinfeksi. Daun yang diambil berjumlah 2 sebagai sampel 1 dan sampel 2.  Primer yang digunakan adalah primer khusus untuk virus kerdil rumput tipe 2 dengan urutan basa nukleotida.
               Forward : 5 – AAAGACCAACTCAGAGGCA- 3
               Reverse : 5 – TCTAGAGCAGTTTCCTGTAGTC-3

Gambar 3. Band DNA hasil elektroforesis
Gambar 3. Band DNA hasil elektroforesis

Dari gambar 3, dapat dilihat bahwa muncul band DNA sesuai target pada semua sampel yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa sampel positif terkena infeksi virus kerdil rumput tipe 2. Dengan demikian, terjawab sudah dugaan petani dan petugas bahwa tanaman padi bukan terinfeksi oleh virus tungro tetapi oleh virus kerdil rumput tipe 2. Penyebab penyakit kerdil rumput adalah virus yang dibawa oleh wereng batang coklat (Nilaparvata lugens). Yang membedakan dari virus kerdil rumput dengan tungro adalah waktu infeksi. Kerdil rumput tipe 2 biasanya muncul pada tanam berikutnya di lokasi bekas serangan hoppernburn (Irwan, 2014). Virus kerdil rumput mengandung RNA utas tunggal dan utas ganda, berbentuk benang halus (filamnentous thread) melingkar dengan diameter 6 – 8 mm dengan panjang antara 950 – 1350 mm (Hibino et al., 1985). Pengendalian yang dilakukan adalah dengan mengendalikan vektornya yaitu wereng batang coklat. Selain itu dilakukan eradikasi selektif dengan mencabut dan memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi. (Ani Widarti, S.Si)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here