Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam usaha budidaya tanaman ubi jalar. Pengaruh OPT dalam proses produksi dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil.

Untuk menekan potensi kehilangan hasil tersebut diperlukan peningkatan pemahaman mengenai OPT dan cara pengelolaannya oleh petugas dan masyarakat yang terkait dalam budidaya tanaman ubi jalar.

Sebagai bahan informasi dan pengetahuan, berikut ini adalah deskripsi singkat serangga hama yang menyerang tanaman ubi jalar.

 

1.     Hama Boleng/Lanas Cylas formicarius Fab. (Coleoptera : Brentidae)

Tanaman Inang. Tanaman inang kumbang Cylas adalah ubi jalar dan tumbuhan liar dari genus Ipomoea spp.
Tanaman Inang. Tanaman inang kumbang Cylas adalah ubi jalar dan tumbuhan liar dari genus Ipomoea spp.

Deskripsi dan Biologi. Siklus hidup kumbang Cylas terdiri dari Telur – Larva – Pupa – Imago (metamorfosis sempurna : holometabola). Telur. Kumbang betina meletakkan telurnya satu per satu kedalam rongga kecil pada bagian pangkal batang atau umbi. Telur Cylas berbentuk bulat dan mengkilap. Rongga kecil tempat meletakkan telur ditutupi dengan lapisan pelindung sehingga sulit untuk dilihat. Larva. Larva berkembang dan membuat lubang gerekan di bagian dalam pangkal batang atau umbi. Larva berwarna putih, mempunyai bentuk tubuh melengkung dan tidak berkaki. Pupa. Stadia pupa terjadi didalam umbi. Pupa berwarna putih. Imago. Beberapa hari setelah keluar dari pupa, kumbang dewasa muncul dari umbi. Kumbang betina mencari umbi sebagai tempat untuk bertelur dengan cara masuk melalui celah/retakan tanah karena kumbang betina tidak bisa menggali tanah. Jenis kelamin kumbang Cylas dapat dibedakan berdasarkan bentuk antenanya. Antena kumbang jantan berbentuk filiform, ruas-ruas antena memiliki ukuran sama dan silindris, sedangkan pada kumbang betina ruas terakhir/bagian ujung antena berbentuk seperti gada. Kumbang Cylas jantan memiliki mata faset lebih besar daripada betina. Pada suhu optimal yaitu sekitar 27°-30°C, satu siklus hidup C. formicarius memerlukan waktu sekitar 33 hari. Umur kumbang (serangga dewasa) berkisar antara 2,5 s/d 3,5 bulan. Pada periode tersebut, kumbang betina dapat menghasilkan telur sekitar 100 – 250 telur. Pada kondisi suhu dibawah suhu optimal, perkembangan Cylas membutuhkan waktu lebih lama.

Kerusakan. Kumbang Cylas dewasa memakan epidermis pangkal batang dan bagian permukaan luar dari umbi sehingga menyebabkan terbentuknya lubang pada umbi. Lubang yang disebabkan oleh aktivitas makan kumbang dapat dibedakan dengan lubang yang diakibatkan oleh aktivitas oviposisi kumbang betina, karena lubang tersebut lebih dalam dan ditemukan adanya kotoran/bekas gerekan (Gbr. 5). Larva yang berkembang didalam umbi membuat lubang gerekan dan menyebabkan kerusakan. Akibat aktivitas larva pada saat membuat lubang gerekan mengakibatkan terbentuknya serbuk/tepung pada rongga bekas gerekan didalam umbi. Umbi yang rusak menghasilkan senyawa beracun (senyawa terpene) sehingga mengakibatkan umbi tersebut tidak dapat dikonsumsi meskipun kandungan senyawa terpene pada umbi kadarnya rendah dan tingkat kerusakan fisiknya pun relatif ringan. Gejala kerusakan yang timbul pada pangkal batang yaitu terjadinya malformasi, penebalan, dan adanya peretakan pada bagian dalam jaringan yang terserang (Gbr. 6). Namun gejala pada pangkal batang sulit ditemukan.

Penyebaran. Kumbang Cylas merupakan hama penting pada tanaman ubi jalar di seluruh dunia, terutama di daerah-daerah yang beriklim kering. Dengan kata lain, kumbang Cylas merupakan hama utama pada ubi jalar. C. formicarius merupakan hama penting di India, negara-negara di Asia Tenggara, Oseania, Amerika Serikat dan Karibia. Di Afrika, C. formicarius ditemukan hanya di daerah Natal-Afrika Selatan dan di pesisir Kenya.

Pengendalian. Pada kondisi populasi kumbang Cylas tinggi, tidak ada satu pun metode pengendalian yang dapat memberikan perlindungan memadai terhadap pertanaman ubi jalar. Integrasi beberapa teknik pengendalian, dengan penekanan pada pencegahan serangan dari kumbang Cylas merupakan tindakan perlindungan tanaman yang lebih efektif. Pengendalian secara kultur teknis. Pengendalian secara kultur teknis terhadap kumbang Cylas telah terbukti efektif dan harus menjadi dasar utama dari tindakan pengendalian yang dilakukan. Pengendalian secara kultur teknis meliputi : penggunaan bahan tanam (stek batang) yang terbebas dari infestasi kumbang Cylas, melakukan rotasi tanaman, membersihkan dan menyingkirkan sisa-sisa tanaman atau umbi sisa panen sebelumnya yang tertinggal di lapangan (sanitasi), melakukan penggenangan lapangan selama 24 jam setelah selesai panen, membersihkan dan menyingkirkan inang alternatif (tumbuhan inang liar), menanam ubi jalar jauh dari daerah sumber serangan kumbang Cylas, pengurugan guludan tanah di sekitar pangkal batang tanaman dan pengurugan retakan-retakan tanah, dan menerapkan sistem pengairan yang cukup untuk mencegah atau mengurangi retakan tanah. Perlakuan pada bahan tanam. Perendaman bibit tanaman kedalam larutan Beauveria bassiana atau insektisida (seperti karbofuran atau diazinon) selama 30 menit sebelum penanaman dapat mengendalikan kumbang Cylas pada periode awal musim tanam. Penggunaan varietas agak tahan. Varietas tahan atau varietas yang mempunyai tingkat ketahanan yang tinggi terhadap kumbang Cylas sampai dengan saat ini belum ada. Beberapa varietas memiliki tingkat ketahanan yang rendah hingga menengah. Varietas lainnya terhindar dari serangan kumbang Cylas karena umbi yang dihasilkannya terletak lebih dalam dari permukaan tanah atau karena varietas tersebut mempunyai masa panen yang singkat dan dapat dipanen lebih awal. Feromon seks. Feromon spesifik yang dihasilkan oleh kumbang Cylas betina untuk menarik kumbang jantan telah berhasil diidentifikasi. Feromon lures untuk C. formicarius sudah tersedia secara komersial. Perangkap feromon digunakan sebagai alat untuk memonitoring dan memantau keberadaan populasi kumbang Cylas. Banyak perangkap hasil rancangan petani dengan menggunakan bahan lokal efektif untuk menangkap kumbang Cylas. Hasil tangkapan perangkap bisa menjadi indikator ada tidaknya kumbang Cylas. Jika pada perangkap tidak ditemukan kumbang Cylas, itu merupakan indikasi bahwa pertanaman ubi jalar di lapangan aman dari serangan kumbang Cylas. Agensia hayati. Agensia hayati yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan kumbang Cylas antara lain Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, nematoda Heterorhabditis spp. dan Steinernema spp. Jamur entomopatogen dapat menginfeksi dan membunuh serangga dewasa (kumbang), sedangkan nematoda dapat membunuh larva. Predator. Semut, laba-laba, kumbang Carabidae dan cocopet merupakan predator-predator umum yang mempunyai peranan penting sebagai musuh alami kumbang Cylas.

 

 2.     Penggerek Batang Ubi Jalar Omphisia anastomasalis (Lepidoptera : Pyralidae)

Deskripsi dan Biologi. Sebagian besar telur diletakkan secara individual di permukaan bawah daun, terutama di bagian tepi daun. Ada juga telur yang diletakkan pada batang. Stadia telur, larva sampai dengan pupa membutuhkan waktu rata-rata 55-65 hari. Stadia larva terdiri atas enam instar. Larva yang baru muncul memiliki kepala berwarna coklat sedangkan bagian tubuhnya berwarna kemerahan atau merah muda. Setelah beberapa hari, tubuhnya berubah menjadi berwarna krem dan mempunyai bintik-bintik hitam. Ukuran larva besar mencapai 30 mm. Pada tanaman yang terserang biasanya terdapat tumpukan serbuk halus berwarna kecoklatan di sekitar pangkal batang. Sebelum menjadi pupa, larva membuat lubang keluar yang ditutupi dengan lapisan pelindung. Masa pupa berlangsung sekitar dua minggu, berada didalam kepompong yang tertutup oleh serat dan terletak didalam terowongan/lubang gerekan pada batang. Serangga dewasa penggerek batang yaitu berupa ngengat. Ngengat hidup selama 5-10 hari. Ngengat betina dapat meletakkan telur 150-300 telur. Ngengat berukuran 15 mm. Kepala dan bagian tubuh ngengat berwarna coklat kemerahan, sedangkan sayapnya berwarna coklat muda.

Kerusakan. Larva membuat lubang dengan cara menggerek bagian dalam batang tanaman ubi jalar tidak lama setelah larva keluar dari telur, dan kadang-kadang menembus leher pangkal umbi. Akibat aktivitas makan larva menyebabkan terjadinya pembesaran dan lignifikasi pada pangkal batang dan terbentuknya rongga dimana rongga tersebut diisi dengan serbuk halus bekas gerekan. Tanaman menjadi layu dan mati. Serangan penggerek batang pada tahap awal pertumbuhan tanaman ubi jalar dapat menghambat pembentukan umbi.

Penyebaran. Penggerek batang merupakan salah satu hama yang paling merusak pada tanaman ubi jalar di daerah tropis dan sub tropis Asia serta daerah Pasifik. Hama penggerek batang ubi jalar tersebar luas di Filipina, Indonesia, India, Sri Lanka, Malaysia, Taiwan, Hawaii, dan Vietnam. Serangan hama penggerek batang ubi jalar terjadi di negara Cina, Jepang, Kamboja, Laos, Burma (Myanmar) dan Thailand. Serangan pada saat fase pertumbuhan tanaman dapat mengakibatkan kehilangan hasil 30-50% atau lebih.

Pengendalian. Penggunaan bahan tanam yang mengandung telur penggerek batang atau menanam tanaman baru yang berdekatan dengan pertanaman yang sudah terserang penggerek batang merupakan sarana utama terjadinya penyebaran hama ini. Perlakuan pada bahan tanam dan pergiliran tanaman mempunyai arti penting terhadap pengendalian hama ini. Pengurugan pada guludan sering dipraktekkan untuk mengurangi kerusakan dari serangan kumbang Cylas. Namun, selain itu ternyata pengurugan pada guludan juga memberikan kontribusi positif terhadap upaya pengendalian penggerek batang. Pengurugan pada guludan menjadi efektif karena lubang yang dibuat oleh larva sebagai jalan keluar serangga dewasa penggerek batang menjadi tertutupi oleh tanah. Cocopet dan semut dapat menyerang larva yang masih berkembang dalam batang tanaman ubi jalar. Sumber ketahanan genetik terhadap penggerek batang ubi jalar telah dikembangkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Sayuran Asia, Taiwan.

 

3.     Kumbang Penyu, Aspidomorpha spp. (Coleoptera : Chrysomelidae)

Tanaman Inang. Ubi jalar atau tanaman lain dari famili Convolvulaceae merupakan tanaman inang kumbang Aspidomorpha spp.
Tanaman Inang. Ubi jalar atau tanaman lain dari famili Convolvulaceae merupakan tanaman inang kumbang Aspidomorpha spp.

Deskripsi dan Biologi. Telur diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun ubi jalar atau tanaman lain dari famili Convolvulaceae. Kelompok telur dari beberapa spesies dilindungi oleh selaput pelindung. Ciri-ciri dari larva Aspidomorpha spp. yaitu berbentuk pipih dan berduri. Pada beberapa spesies, bagian ekor dari larva Aspidomorpha spp. terlihat terangkat ke belakang. Larva dapat membawa kotoran dan material bekas pergantian kulit sebelumnya. Duri pada pupa lebih sedikit daripada duri larva. Serangga dewasa berbentuk oval melebar, mempunyai warna yang cerah/terang dan bermotif. Larva, pupa, dan serangga dewasa dapat ditemukan pada kedua sisi daun. Perkembangan telur hingga serangga dewasa membutuhkan waktu 3-6 minggu.

Kerusakan. Serangga dewasa maupun larva memakan daun sehingga menyebabkan terbentuknya lubang-lubang besar pada daun. Pada kondisi serangan berat hama tersebut dapat menyebabkan daun menjadi gundul sehingga hanya menyisakan tulang daun saja, atau bahkan dapat menyebabkan batang menjadi patah. Meskipun kerusakan yang disebabkan oleh kumbang penyu pada daun cukup signifikan, namun tidak pernah sampai menyebabkan kehilangan hasil.

Penyebaran. Kumbang Aspidomorpha telah diketahui sebagai hama pada ubi jalar di negara Kenya dan Asia Tenggara. Kumbang penyu tersebar secara luas dan dikenal secara umum.

Pengendalian. Pengendalian terhadap kumbang penyu jarang dilakukan. Membersihkan gulma-gulma jenis convolvulaceous yang terdapat di daerah sekitar pertanaman ubi jalar dapat mengurangi populasi kumbang penyu. Beberapa musuh alami yang sudah dilaporkan diantaranya termasuk parasit telur dan parasit larva (Tetrastichus sp., Eulophidae, Chalcidae) dan predator (Stalilia sp., Mantidae).

4.     Ulat Grayak, Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae)

Tanaman Inang. Ulat grayak mempunyai tanaman inang yang banyak antara lain : ubi jalar, jagung, kedelai, kapasa dan sebagainya.
Tanaman Inang. Ulat grayak mempunyai tanaman inang yang banyak antara lain : ubi jalar, jagung, kedelai, kapasa dan sebagainya.

Deskripsi dan Biologi. Telur S. litura diletakkan secara kelompok. Jumlah setiap kelompok telur kurang lebih 350 telur. Kelompok telur tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang bervariasi dan biasanya ditutupi oleh semacam selaput berbulu. Ulat keluar dari telur setelah 3-5 hari. Untuk berubah menjadi kepompong ulat tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Larva memiliki ciri khusus yaitu memiliki dua buah sabit hitam pada bagian dorsal dari segmen perut keempat dan kesepuluh yang dibatasi oleh dengan garis-garis lateral berwarna kuning. Larva lebih menyukai tempat yang lembab. Pada siang hari larva bersembunyi di tanah sedangkan pada malam hari larva mulai makan dan merusak tanaman. Stadia pupa berlangsung didalam tanah. Ngengat betina kawin beberapa kali dan menghasilkan feromon seks. Pada hari keempat setelah kemunculannya, ngengat jantan sangat sensitif terhadap feromon. Ngengat betina dapat meletakkan telur sebanyak 2.000-3.000 butir.

Kerusakan. Larva instar awal memakan epidermis daun. Setelah memasuki instar ketiga, larva memakan jaringan daun parenkim, dan hanya menyisakan tulang-tulang daun. Larva instar akhir S. litura sangat rakus dan bahkan bisa menyerang akar ubi jalar apabila akar ubi jalar tersebut terekspos keluar tanah.

Penyebaran. Ulat grayak tersebar luas dan mempunyai banyak tanaman inang. Keberadaan S. litura terbatas hanya di Asia, Pasifik, dan Australia.

Pengendalian. Pembersihan gulma sebagai inang alternatif harus dilakukan. Pengumpulan kelompok telur atau kelompok larva instar awal yang menyerang daun merupakan cara efektif untuk mengendalikan ulat grayak. Penggunaan insektisida atau Bacillus thuringiensis dapat dilakukan pada larva instar awal, dimana pada saat tersebut larva hidup secara bergerombol. Formulasi polihedral nuclear virus (NPV) pada saat ini sudah tersedia dan dapat digunakan untuk mengendalikan ulat grayak. Jamur Muscardine hijau, Nomuraea rileyi, mempunyai tingkat patogenisitas yang tinggi terhadap S.litura. Virus Borrelinavirus litura dapat menyebabkan kematian pada ulat grayak setelah masa inkubasi 4-7 hari. Kumbang Carabidae, parasitoid dari Famili Vespidae, laba-laba pemakan larva, dan lebih dari 40 spesies parasitioid Famili Skelionida, Braconid, Ichneumonid telah diketahui sebagai predator dan parasitoid S. litura.

 

5.     Kepik Ubi Jalar, Physomerus grossipes (Hemiptera: Coreidae)

   .Deskripsi dan Biologi. Kepik ubi jalar meletakkan kelompok telur pada permukaan bawah daun atau batang. Imago kepik betina melindungi telur dan kelompok nimfa muda. Stadia telur berlangsung selama kurang lebih 15 hari. Stadia nimfa terdiri atas 5 instar. Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhkan oleh kepik jantan untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya yaitu sekitar 85 hari sedangkan kepik betina memerlukan waktu 88 hari. Ukuran kepik dewasa sekitar 20 mm.

Kerusakan. Nimfa dan imago kepik ubi jalar menusuk batang dan tangkai ubi jalar untuk menghisap cairan tanaman sehingga menyebabkan tanaman menjadi layu dan kerdil.

Penyebaran. Kepik ubi jalar ditemukan di Asia Tenggara, namun statusnya masih sebagai hama minor.

Pengendalian. Kepik ubi jalar dalam jumlah besar biasanya ditemukan pada saat aktivitas makan, sehingga tindakan pengendalian yang murah dan mudah untuk dilaksanakan adalah dengan cara menangkap kepik dan membuang tanaman yang terserang.

.

6.    Ulat Penggulung Daun, Convolvuli Brachmia (Lepidoptera : Gelechiidae), Herpetogramma hipponalis (Lepidoptera : Pyralidae)

Deskripsi dan biologi. Ulat penggulung daun B. convolvuli berwarna hitam, sedangkan ulat penggulung daun H. hipponalis berwarna hijau. Ulat penggulung daun memakan bagian dalam daun yang sudah digulung, dan meninggalkan epidermis permukaan bawah daun dalam keadaan utuh. Dalam kebanyakan kasus, pada satu gulungan daun hanya ditemukan satu larva. Ulat penggulung daun B. convolvuli meletakkan telurnya secara tunggal pada daun. Telur berbentuk oval dan berwarna putih kekuningan. Telur menetas setelah 3-5 hari. Larva mengalami pergantian instar sebanyak lima kali dan masing-masing instar berlangsung selama 2-5 hari. Rata-rata periode larva adalah 11 hari. Larva mempunyai tubuh yang lunak, berwarna mencolok dan memiliki tanda putih pada bagian torak dan abdomen. Periode pupa adalah 4-7 hari. Ngengat betina rata-rata hidup selama 5 hari. Ulat penggulung daun H. hipponalis meletakkan telurnya secara berkelompok pada permukaan atas daun, dekat pelepah. Telur berwarna hijau mengkilap, berbentuk lonjong, dan ditutupi dengan bahan gelatin seperti sisik. Telur menetas setelah 3-5 hari. Stadia larva terdiri atas lima instar. Larva berwarna kuning kehijauan, memiliki bulu tipis berwarna coklat, dan pada bagian kepala berwarna coklat gelap. Periode pupa berlangsung 4-8 hari. Ngengat berwarna coklat kekuningan disertai dengan tanda coklat gelap pada sayapnya. Ngengat betina hidup sekitar 3 hari.

Kerusakan. B. convolvuli menggulung pinggiran daun hanya sekali, sedangkan H. hipponalis menggulung pinggiran daun sebanyak dua kali dan menghasilkan beberapa anyaman. Ulat penggulung daun menyebabkan daun seperti direnda, dengan urat daun utama dibiarkan utuh.

Penyebaran. Ulat penggulung daun tersebar luas di seluruh Asia dan Afrika. Di Filipina telah dilaporkan adanya serangan oleh ulat penggulung daun berwarna coklat, Ochyrotica concursa (Lepidoptera: Pyralidae), dan ulat penggulung daun berwarna merah muda-bergaris, Anticrota ornatalis (Lepidoptera: Pyralidae). Larva penggulung daun pyralid, Tabidia aculealis, menyerang jaringan mesofil bagian dalam gulungan daun, terutama daun tua. Di Indonesia, dilaporkan bahwa serangan ulat penggulung daun pyralid kadang-kadang menyebabkan kerusakan berat.

Pengendalian. Umumnya parasitoid Braconidae memiliki rata-rata tingkat parasitasi yang tinggi. Cocopet dan predator generalis lainnya juga merupakan musuh alami yang mempunyai peranan penting. Jika habitat musuh alami tidak terganggu oleh penggunaan pestisida, tindakan pengendalian tidak perlu dilakukan. Penggunaan bahan tanam yang terbebas dari infestasi hama merupakan cara yang efektif untuk mengurangi terjadinya serangan oleh ulat penggulung daun.

.

7.     Belalang Zonocerous variegatus (Orthoptera : Pyrgomoriphidae), dan Attractomorpha psitticina (Orthoptera : Acrididae),

 

Deskripsi dan Biologi. Di Afrika, baik nimfa maupun serangga dewasa belalang Z. variegatus dapat menyebabkan daun tanaman ubi jalar menjadi gundul. Ledakan hama belalang jarang terjadi sehingga pengendalian pun jarang dilakukan.

Spesies belalang Asia merupakan serangga polifagus, mempunyai bentuk muka yang menceng, bentuk kepala seperti kerucut, mempunyai antena yang pendek dan berwarna hijau cerah. Belalang berukuran 30–40 mm.

Belalang keladi/talas, Gesonula zonocena mundata (Orthoptera : Acrididae) ditemukan di Asia Tenggara. Belalang ini membuat lubang pada tangkai daun tanaman inang untuk meletakkan telur-telurnya. Telur-telur tersebut ditutupi dengan cairan lengket berwarna coklat kemerahan. Belalang dewasa berwarna cokelat pucat atau hijau, berukuran 30 mm dan memiliki garis-garis hitam dimulai dari mata sampai dengan ujung sayapnya. Kaki belakang belalang berwarna hitam, tibia berwarna kebiruan dengan warna putih pada ujung spine. Keladi/talas dan eceng gondok merupakan tanaman inang dari belalang G. zonocena mundata.

8.     Aphids/Kutu Daun, Aphis gossypii dan lain-lain (Homoptera: Aphididae)

Tanaman Inang. A. gossypii memiliki kisaran inang yang luas, diantaranya : kapas, labu, dan kacang-kacangan.
Tanaman Inang. A. gossypii memiliki kisaran inang yang luas, diantaranya : kapas, labu, dan kacang-kacangan.

 

Deskripsi dan biologi. Aphids/kutu daun adalah serangga bertubuh lunak, mempunyai ukuran sekitar 1-2 mm, berwarna hijau kekuningan sampai hitam, dengan atau tanpa sayap. Aphids dapat berkembang biak secara aseksual, sehingga pertambahan populasinya bisa terjadi secara cepat. Dalam satu tahun, aphids bisa muncul beberapa generasi.

Kerusakan. Aphids menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan dari tunas-tunas yang baru tumbuh. Gejala serangan aphids yaitu daun berkerut, keriting, dan menyebabkan daun muda menggulung kebawah. Pada kondisi serangan berat, ketahanan tanaman menjadi sangat berkurang.

Pada saat aphids menghisap cairan daun dan berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, aphids tersebut dapat menularkan virus. Jenis virus yang ditularkan oleh aphid pada tanaman ubi jalar adalah virus belang/Sweet Potato Feathery Mottle Virus (SFMV). Aphids bersayap dapat membawa virus ke daerah yang baru dengan menempuh jarak yang cukup jauh.

Penyebaran. Aphids merupakan hama kosmopolitan. Peranan utama aphids pada tanaman ubi jalar adalah sebagai vektor penyakit virus.

Pengendalian. Pengendalian tidak diperlukan dan jarang dilakukan. Predator seperti kumbang koksi, lacewings (Chrysoperla sp.), dan hoverfly secara alami dapat mengurangi populasi aphids. Petani biasanya menggunakan insektisida pada saat terjadi ledakan hama, namun pemakaiannya harus dilakukan dengan hati-hati karena perlakuan insektisida dapat mengurangi dan membunuh populasi musuh alami serta dapat menyebabkan terjadinya ledakan hama aphids di kemudian hari.

 

 

9. Kutu Kebul, Bemisia tabaci  (Homoptera: Aleyrodidae)

.Tanaman Inang. B. tabaci memiliki kisaran inang yang luas, diantaranya kapas, tomat, tembakau, dan singkong.
.Tanaman Inang. B. tabaci memiliki kisaran inang yang luas, diantaranya kapas, tomat, tembakau, dan singkong.

Deskripsi dan biologi. Imago betina B. tabaci bertelur dibawah daun. Nimfa instar pertama sampai dengan instar akhir berwarna putih kehijauan, berbentuk oval, seperti sisik, dan agak berduri. Serangga dewasa berukuran sangat kecil dan memiliki sayap berwarna putih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Periode perkembangan satu generasi B. tabaci memerlukan waktu 3-4 minggu.

Kerusakan. Dalam kondisi populasi tinggi, kutu kebul dapat menyebabkan daun menguning dan nekrosis. Hama ini lebih berperan sebagai penular virus, terutama virus Sweet Potato Mild Mottle Virus (SMMV).

Penyebaran. B. tabaci merupakan hama kosmopolitan dan mempunyai peranan sebagai vektor penyakit virus SMMV.

Pengendalian. Langkah-langkah pengendalian biasanya jarang dilakukan dan tidak diperlukan. Pengendalian pada kutu kebul bukan merupakan cara yang efektif untuk mengurangi terjadinya serangan penyakit virus yang mereka tularkan.

 

10.     Tungau Puru, Eriophyes gastrotrichus (Acari: Eriophyidae)

 

Deskripsi dan biologi. Serangan hama tungau E. gastrotrichus menyebabkan gejala puru pada daun, tangkai, dan batang tanaman ubi jalar. Awalnya, puru berwarna hijau muda, tetapi setelah itu puru tersebut berubah menjadi berwarna cokelat. Beberapa tungau dari beberapa stadia yang berbeda dapat hidup didalam  puru tersebut. Pada kondisi serangan berat, daun-daun ubi jalar menjadi keriting sehingga penampilannya seolah-olah sudah tidak berbentuk daun lagi.

Penyebaran. Serangan tungau puru E. gastrotrichus pernah dilaporkan terjadi di Filipina dan Papua Nugini.

Pengendalian. Penggunaan bibit tanaman yang bebas tungau harus dikombinasikan bersama-sama dengan tindakan sanitasi lapang yang baik serta pemusnahan gulma yang dapat bertindak sebagai inang alternatif.

 

Penulis : Sujiono, SP

                  POPT Ahli Pertama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here