Masa lalu yang kelam
Hingga akhir tahun 2014 Gapoktan Mekarwangi di Desa Kundangwangi Kecamatan Ujung Jaya Kabupaten Sumedang provitas padi hanya mencapai 3 Ton/ha akibat serangan hama tikus yang sulit dikendalikan. Kegagalan panen akibat serangan hama tikus mencapai 45-55 Ha/ musim dari 550 Ha luas pertanaman padi di Desa Kundangwangi. Itu artinya kehilangan hasil di Desa Kundangwangi mencapai 600 Ton/ tahun dengan asumsi 3 Ton/ha provitas dan dua kali panen setahun.
Berbagai hal pernah dicoba dalam mengendalikan hama tikus seperti gerakan Kalagumarang, setroom listrik di pesemaian dan pemanfaatan racun tikus namun demikian tidak pernah mendapatkan hasil yang terbaik. Petani malas diajak gerakan, lahan usahatani yang disewakan karena tidak menjanjikan dan luas lahan usaha lebih rendah sekitar (40:60) dibanding luas areal pemukiman dan hutan sehingga menyulitkan upaya pengendalian tikus. Kawasan pemukiman dan hutan inilah yang menjadi habitat yang cocok untuk hama tikus sehingga terus berkembang dengan pesat dan sulit dikendalikan hingga penanganan tidak pernah tuntas.

Berawal dari Tyto alba mangsa tikus
Data historis perkembangan serangan hama tikus tiga tahun terakhir di Desa Kundangwangi Kecamatan Ujung Jaya menunjukkan trent tetap setiap tahunnya yang berulang setiap tahunnya.

MT

Kategori Serangan (ha)

R

S

B

P

Jumlah

2012/ 2013

25

15

10

5

55

2013

25

10

10

0

45

2013/ 2014

15

15

20

0

50

Berawal dari ditemukannya kotoran serta Burung hantu/ Koreak (Tyto alba) sedang memangsa tikus di sebuah bangunan kosong bekas rumah makan “Gemini” di Desa Ujung Jaya Sumedang oleh Hikmat Sumantri (53 Tahun) seorang Mantri Hama Kecamatan Ujung Jaya.
Maka timbullah ide bagaimana mengendalikan tikus dengan memanfaatkan Tyto alba yang nampaknya sesuai dengan karakter petani saat itu yang malas mengendalikan tikus karena berbagai hal. “Barangkali dengan memanfaatkan burung hantu dapat meminimalisir serangan dan kerugian oleh tikus dapat diatasi” demikian fikir Hikmat.
Orang yang kali pertama didekati dan diajak serta merespon dengan baik adalah Ujang Muhammad Arifin Ketua Gapoktan “Mekar Wangi” Desa Kudang Wangi Ujung Jaya Sumedang. Berbekal tekad dan modal semangat Hikmat dan Ujang mulai menggali informasi dari berbagai media hingga ke Jatisari (BBPOPT) dan Tlogoweru, Demak, Jawa Tengah.
Kemudian Hikmat, ujang dan beberapa orang anggota kelompok membentuk tim investigasi dan Tim rumah burung hantu (rubuha). Hasilnya bekas rumah makan “Gemini” yang ditinggal pemiliknya dipastikan merupakan sumber awal ditemukannya populasi Tyto alba sekitar 3 pasang. “Karakter burung hantu berbeda dengan jenis burung lainnya, untuk berkembang biak dia hanya mampu memanfaatkan bekas sarang burung lainnya atau bangunan tinggi semacam menara atau dikolong jembatan, Tyto alba tidak bisa membuat sangkar sendiri” Kata Ujang penuh semangat “Hal inilah yang kami manipulasi sebagai campur tangan manusia dengan membuat rubuha sebagai sarang buatan” tandasnya lagi.
Tahun 2014 merupakan star awal kegiatan dan tentunya dengan sumber daya yang sangat terbatas, untuk beberapa membuat rubuha saja kelompok tani tersebut kesulitan apalagi introduksi burung hantu yang memerlukan anggaran yang cukup besar. “Kami tidak melakukan introduksi burung hantu karena selain biaya mahal dan penanganannya sulit, akan tetapi kami melakukan manipulasi sarang atau Rubuha agar burung hantu berkembang biak di sarang yang baru atau istilahnya Konservasi, karena kami yakin di Ujung Jaya populasi burung hantu cukup banyak” Kata Hikmat mengebu gebu.
Membangun rubuha di areal pertanaman padi di Desa Kundang wangi merupakan suatu hal yang aneh dan menjadi bahan tertawaan masyarakat sekitarnya bahkan beberapa orang menganggap suatu hal yang GILA alias KEBLINGER (maap). Perjuangan makin berat dan sulit dengan mitos Burung Hantu sebagai burung kematian yang masih melekat di pandangan masyarakat Ujung Jaya kala itu, tentunya semakin sulit bagi kami untuk bergerak.
Dua minggu setelah pemasangan rubuha belum ada tanda tanda kehadiran burung hantu namun kurang dari sebulan kekhawatrian Hikmat dan kawan kawan mulai mencair karena tanda tanda kehadiran burung hantu mulai terlihat yaitu dengan ditemukannya kotoran khas burung hantu berwarna putih dan kepala tikus yang berserakan di bawah tonggak rubuha.
“Pada awalnya Saya sangat meragukan ide Pak Hikmat karena suatu hal yang mustahil populasi dan kerusakan tikus di Kudang Wangi dapat diatasi oleh Burung Hantu, Tetapi kenyataannya areal swah yang dibangun Rubuha serangan tikusnya dipastikan berkurang banyak bahkan nyaris tidak ada” demikian Kata Ujang yang terus tandem mendampingi Hikmat.
Perjalanan memang berliku dan penuh hambatan namun secara meyakinkan Gapoktan Kundang Wangi dapata memberikan gambaran keberhasilan konservasi Burung Tyto alba kepada masyarkat di Kecamatan Ujung Jaya, Tujuh dari Sembilan desa di Kecamatan Ujung Jaya sampai dengan Oktober 2017 sudah menerpakan konservasi Burung Tyto alba. Dua desa lainnya belum mnerapkan karena serangan tikusnya relative aman sampai saat ini.
Penerapan konservasi Burung Tyto alba menyebar juga ke beberapa kecamatan di Kabupaten Sumedang, Garut, Majalangka dan Indramayu. Beberapa kelompok tani berkunjung langsung ke Kantor Konservasi di Ujung Jaya atau mengundang menjadi nara sumber dan bahkan mentoring pembuatan Rubuha.
Manfaat konsrvasi Burung Tyto alba yang paling penting adalah menyelamatkan jumlah bulir yang selama ini hilang oleh serangan tikus dan meningkatkan produktifitas yang selama ini hanya 3 Ton/ Ha menjadi 5 Ton/ Ha suatu hasil kerja yang aduhai……bagaiman tidak selama kurun waktu tiga tahun serangan tikus terus menurun.
“Alhamdulillah sekarang rubuha bertambah menjadi 144 unit….. dan yang terakhir 10 unit kami buat sebagian sudah terisi dengan Burung Tyto alba” kata Momo Taruna Ketua Poktan Muda Makmur dari Desa Ujung Jaya yang baru dua tahun mengembangkan konservasi Burung Tyto alba.

 

Kategori Serangan (ha)

Keterangan

R

S

B

P

Jumlah

 

2012/ 2013

25

15

10

5

55

Pra Tyto alba

2013

25

10

10

0

45

Pra Tyto alba

2013/ 2014

15

15

20

0

50

Pra Tyto alba

2014

5

3

13

0

21

Star Tyto alba

2014/ 2015

5

2

0

0

7

Pasca Tyto alba

2015

3

2

0

0

5

Pasca Tyto alba

2015/ 2016

3

0

0

0

3

Pasca Tyto alba

2016

0

0

0

0

0

Pasca Tyto alba

2016/ 2017

1

0

0

0

0

Pasca Tyto alba

Dukungan dating dari berbagai lemen masyarakat
Haji Aan Anhari (45 Tahun) Kepala Desa Kudang Wangi Kecamatan Ujung Jaya Sumedang sangat mengapresiasi konservasi burung hantu yang dilakukan oleh kelompok tani Mekar Wangi di wilayahnya, “dulu jikala malam datang maka yang hilir mudik di jalan desa adalah tikus, maka sekarang kalau malam yang ramai adalah di atas… di udara… itu Tyto alba”. Maka sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan pertanian rencanya pada tahun anggaran 2018 akan dialokasikan dana sekitar 30 Juta rupiah untuk membangun sekitar dua puluh unit rubuha permanen, karena beberapa rubuha sudah lapuk dimakan usia.
Terima kasih kepada Hikmat Sumantri dengan berbagai ide idenya yang begitu cemerlang dan sekarang menjadi populer di kalangan petani dan petugas di Ujung Jaya. Bahkan Pemprov Jawa Barat memberikan apresiasi sebagai terbaik kedua dalam lomba inovasi teknologi ramah lingkungan Tahun 2017. Sebelumnya Hikmat memperoleh predikat ketiga Lomba PHT Nasional Tahun 2015 dan penghargaan POPT teladan Kementerian Pertanian Tahun 2003. (MJJ)

 burhan

 burhan2

 burhan3

 burhan4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here