Hingga saat ini Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) sudah memverifikasi serangan ulat grayak di 13 Provinsi yang ada di Indonesia. Sebaran serangan ulat grayak S. frugiperda ini harus terus diantisipasi dan perlu penanganan yang baik agar serangan ulat grayak ini tidak menimbulkan kerugian yang besar. Oleh karena itu, BBPOPT terus melakukan pemantaun sebaran ulat grayak ini serta melakukan bimbingan teknis pengenalan dan penanganan ulat grayak S. frugiperda di beberapa daerah di Indonesia.

Berkaitan dengan hal tersebut maka pada tanggal 21-24 Agustus 2019 Kepala Balai Besar Peramalan OPT, Dr. Ir. Enie Tauruslina Amarullah, MP, dan tim melakukan pemantauan sebaran ulat grayak S. frugiperda yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Berdasarkan laporan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Prov. Sumatera Barat, dalam waktu 4 bulan ini , ulat grayak S. frugiperda ini sudah menyebar di beberapa kabupaten di antaranya adalah Kabupaten Agam dan Kabupaten Padang Pariaman. menanggapi hal tersebut Tim BBPOPT langsung terjun ke lapangan untuk melihat sejauh mana tingkat serangan ulat grayak.

Dalam kunjungan tersebut ada 4 agenda penting yang dilakukan

  1. Melakukan koordinasi dengan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Provinsi Sumatera Barat.
  2. Melakukan koordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
  3. Melakukan pemantauan serangan ulat grayak frugiperda
  4. Melakukan bimbingan teknis pengenalan dan pengendalian ulat grayak frugiperda

Pemantauan serangan ulat grayak S. frugiperda dilakukan di dua (2) kabupaten yaitu Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Agam. Selama kegiatan pemantauan, Tim BBPOPT didampingi oleh Koordinator POPT dan POPT setempat. Varietas jagung yang dominan ditanam di dua kabupaten yang dipantau adalah varietas Pioneer 32.

Pemantauan serangan ulat grayak S. frugiperda di Kabupaten Padang Pariaman dilakukan di Nagari Aiya Tajun, Kecamatan Lubuk Alung. Stadia tanaman jagung yang ditemukan di lapangan sangat bervariasi mulai dari stadia vegetative hingga stadia generative. Pada kondisi tanaman jagung yang selalu ada di lapangan maka tim menemukan adanya overlapping generasi ulat grayak di lapangan. ditemukan populasi kelompok telur hingga larva instar 6 di pertanaman jagung. Tingkat serangan ulat grayak S. frugiperda di Kabupaten Padang Pariaman bervariasi mulai dari serangan ringan hingga sedang. para petani disana tidak tinggal diam mereka telah berupaya melakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida.

Sedangkan pemantauan serangan ulat grayak di Kabupaten Agam dilakukan di Nagari Geragaan dan Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung. Kondisi tanaman jagung di Kabupaten Agam juga sangat bervariasi yaitu mulai dari tanaman jagung yang baru ditanam hingga tanaman jagung yang sudah dipanen. Dengan kondisi ini, maka populasi ulat grayak S. frugiperda akan sulit untuk ditekan karena ketersediaan makanan sepanjang musim. Tim BBPOPT juga melakukan pemantauan lokasi pertama dilaporkan terjadinya serangan ulat grayak di Kabupaten Agam. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas lapang, dengan pengendalian yang telah dilakukan, petani masih bisa melakukan panen terhadap tanaman jagung yang terserang. Serangan ulat grayak pada tongkol jagung juga sangat jarang ditemukan di Kabupaten Agam, dimana serangan ulat grayak yang paling tinggi ditemukan pada tanaman jagung yang masih muda.

Sebagai tindak lanjut penanganan Spodoptera frugiperda BBPOPT mengadakan Bimbingan teknis pengenalan dan pengelolaan hama Spodoptera frugiperda untuk para  petugas POPT bertempat di ruang Pertemuan BPTPH Provinsi Sumatera Barat. Bertindak sebagai pemateri yaitu Willing Bagariang, SP, M.Si. Adapun materi yang disampaikan pada bimbingan teknis ini adalah:

  1. Penyebaran hama ulat grayak Spodoptera frugiperda mulai dari negara asal yaitu Amerika hingga ke Asia.
  2. Pengenalan ciri-ciri khusus hama ulat grayak Spodoptera frugiperda dan perbedaannya dengan ulat lain yang menyerang tanaman jagung di Indonesia.
  3. Bioekologi hama ulat grayak frugiperda
  4. Pengenalan gejala serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda pada tanaman jagung.
  5. Metode pengamatan dan pengendalian ulat grayak Spodoptera frugiperda

Dari hasil bimbingan teknis yang dilakukan ini, diharapkan petugas menjadi faham bagaimana mengantisifasi dan mengendalikan ulat grayak S. Frugiperda dilapangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here