Palembang  —- Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian terus menggenjot program pengembangan pertanian di lahan rawa atau yang dikenal dengan nama SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani). Berbagai langkah strategis telah dilakukan, antara lain dengan kegiatan Demfarm (demonstration farming) yang di dalamnya melibatkan petugas pendamping yang ditempatkan di lapangan.

Dari data Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), lahan rawa di Indonesia tersebar di tiga pulau besar, yaitu di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Luas lahan rawa Indonesia kurang lebih 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13,4 juta ha.

Sementara, luas lahan rawa potensial non gambut di Sumatera Selatan berdasarkan data BBSDLP tahun 2015 adalah seluas 208.000 hektar yang tersebar di dataran rendah dengan status Areal Penggunaan lain (APL), Hutan Produksi (HP) dan Hutan yang dapat dikonversi (HPK).

Melihat peluang yang besar dan bisa dimanfaatkan, Kementerian Pertanian (Kementan) menggulirkan program SERASI. Sejalan dengan upaya menyukseskan pengembangan lahan rawa, salah satunya melalui penyusunan petunjuk teknis (juknis) yang berfungsi sebagai panduan bagi para petugas lapang melakukan hal-hal teknis berkenaan dengan inovasi dan teknologi yang dapat diterapkan di lahan rawa.

“SERASI merupakan program andalan Kementerian Pertanian, dan program top prioritas,” ungkap Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian,  Dr. Husnain, MSc., dalam arahannya pada kegiatan ”Sosialisasi Petunjuk Teknis Penelitian dan Pengembangan Demonstration Farming Program #SERASI” yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (26/8).

Karenanya, koordinasi dan kerja sama dengan berbagai pihak perlu terus ditingkatkan. Dalam kesempatan itu, Husnain juga menyampaikan penghargaan dan ucapkan terima kasih kepada Pemda Sumsel yang selama ini telah mendukung program SERASI.

Tak hanya itu, sosialisasi petunjuk teknis sangat penting karena sebagai upaya mendorong percepatan dan keberhasilan pengembangan lahan rawa yang saat ini difokuskan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Kunci utama keberhasilan program ini adalah koordinasi dan kerja sama yang kuat dari berbagai pihak.

Kepala Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra), Ir. Hendri Sosiawan, CESA mengungkapkan lahan yang dijadikan lokasi demfarm di Sumatera Selatan saat ini seluas 100 Ha yang berlokasi di Kecamatan Talangrejo, Kab. Banyuasin. Hendri juga menuturkan, bahwa mulai bulan September 2019 para petugas akan dipusatkan di lokasi demfarm Banyuasin.

Lokasi demfarm di Sumatera Selatan menurut koordinator lapang Program SERASI Prov. Sumatera Selatan, Budi Raharjo, S.TP, MSi, difokuskan di 3 desa di Kecamatan Muara Telang yakni masing-masing Desa Telang Rejo 36 ha, Sumber Hidup 32 ha, dan Telang Makmur 32 ha.

Pada acara sosialisasi yang diikuti oleh 65 orang peserta tersebut disampaikan masing-masing materi juknis secara ringkas yakni: Budidaya Padi Lahan Rawa Menggunakan Paket Teknologi RAISA (Nurwulan, SP., M.Sc BB Padi); Pengelolaan Lahan dan Air Menurut Karakteristik Hidrologis Rawa Pasang Surut di Sumatera Selatan (Ir. Hendri Sosiawan, CESA Balittra); Budidaya Hortikultura di Lahan Rawa Sumatera Selatan (Ir. Sulusi Prabawati, MSc. Puslitbanghorti); Pengembangan Budidaya Itik di Lahan Rawa Sumatera Selatan (Dr. Maijon Purba, Balitnak); Pengembangan Model Budidaya Ikan Ramah Lingkungan di Lahan Rawa di Lahan Rawa Sumatera Selatan (Dr. Wahida Annisa, Balittra); Pengembangan Alsin mendukung kegiatan demfarm SERASI (Dr. FX. Lilik Trimulyantara, dan Ir. Rudi Cahyo H, MT, BB Mektan/BB Pascapanen); Penguatan Kelembagaan Petani dan Pengembangan Pertanian Korporasi di Lahan Rawa Sumatera Selatan (Dr. Hermanto, PSEKP); dan Bimbingan Teknis Pengembangan Pertanian Lahan Rawa mendukung Program SERASI (Saefoel Bachri, S. Kom, MMSI).

Pendampingan Petani

Pengelolaan lahan rawa di Sumatera Selatan memiliki karakteristik berbeda dibanding dengan lahan rawa di Kalimatan Selatan. Lahan di Sumatera Selatan sudah lebih banyak dikelola dan kondisinya sudah lebih baik. Demikian pula dengan sistem kelembagaan di tingkat petani, di Sumatera Selatan sudah lebih berkembang.

Karenanya, Kementan di Sumatera Selatan menurunkan 23 orang petugas pendamping yang ditempatkan di Kab. OKI, Musi Banyuasin, Banyuasin, Prov. Sumatera Selatan dan 27 orang tenaga pendamping lapang di Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.

Terhadap petugas pendamping lapang, secara khusus Husnain berpesan agar penugasan yang diberikan dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dan menggali pengalaman untuk menjadi peneliti unggul. Menaklukan lahan rawa lebih sulit dibandingkan dengan lahan kering, karenanya peran dan keberadaan petugas pendamping sangatlah penting.

Dalam kegiatan sosialisasi juknis tersebut, hadir Pelaksana Tugas Kepala Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) Sumatera Selatan, Dr. Rustam, MSi. Dalam sambutannya, Rustam menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting dalam program pengembangan lahan rawa dan dia menyebut kewajiban BPTP Sumsel untuk memfasilitasi kegiatan seperti ini dan melayani sebaik-baiknya.

Rustam juga menyampaikan bahwa pada minggu pertama September akan dilakukan penarikan semua petugas detasir. Petugas pendamping yang saat ini ada di OKI, Muba, dan Banyuasin akan dipusatkan di Kab. Banyuasin, namun dari 23 orang yang ada hanya akan dipertahankan sebanyak 10 orang petugas pendamping.

Lebih jauh Rustam menyebut telah dilakukan berbagai kegiatan bimbingan dan pendampingan teknis kepada kelompok meliputi budidaya jagung, itik, hortikultura, dan ikan. Selain itu dilakukan juga pembekalan petugas lapang dalam berbagai kegiatan, yang dilakukan di BPTP Sumsel.

Professor Riset BBSDLP, Prof Irshal Las menegaskan dalam program SERASI Badan Litbang tidak boleh gagal, karena program ini akan sangat berimplikasi kepada petani. Program SERASI melibatkan banyak unit kerja dan pemerintah daerah, karenanya koordinasi menjadi sangat penting.

Pendampingan teknis dan bimbingan kepada petani di lapangan dalam waktu dekat akan dilakukan melalui demfarm. Menurut Irsal, keberhasilan sebuah demfarm dicirikan oleh kelompok tani yang mencontoh teknologi pada demfarm dengan cara “learning by doing and learning by seeing” (belajar melalui bekerja dan belajar dengan melihat”), pemberdayaan petani dilakukan melalui penerapan langsung teknologi yang direkomendasikan.

Irsal menekankan, upaya fasilitasi pembelajaran bagi kelompok tani melalui penerapan teknologi yang sudah teruji agar mereka mampu menggunakan potensi yang dimilikinya dalam meningkatkan produksi dan produktivitas produk pertanian (Sinartani.com)

Baca juga : 26 Persen Petani Indonesia Beli Pestisida Palsu

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here