Kompas.com. Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian ( Kementan) menjaga harga beras pada puncak panen raya melalui Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling).

“Perpadi ambil bagian dalam program ini. Jadi Kementan menggandeng penggilingan-penggilingan kecil untuk menyerap gabah petani,” Kata Sutarto dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2020).

Ia melanjutkan, modal untuk ambil bagian dalam program itu berasal dari lembaga keuangan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Berkat program tersebut, imbuh Sutarto, penggilingan skala kecil dapat mengembangkan usahanya dan membeli alat pascapanen agar nilai tambah beras makin tinggi.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP) Ditjen Tanaman Pangan Kementan Gatut Sumbogodjati membenarkan bahwa saat ini hampir seluruh wilayah di Indonesia sedang panen.

Tercatat dari Minggu (29/3/2020) sampai Jumat (3/4/2020), terdapat 163 kabupaten yang melaporkan lahannya sedang dan siap panen.

“Ini kondisi nyata di lapangan. Jadi kami ada hitungan matematis dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan nyata di lapangan,” kata Gatut.

Data BPS yang ia maksud memprediksi bahwa panen April dan Mei akan lebih luas dibanding Maret.

“Perkiraannya, luas panen April akan mencapai 1,73 juta hektar (ha), atau setara dengan 5,27 juta ton beras. Sedangkan produksi Mei mencapai 3,8 juta ton,” ujar Gatut.

Laporan produktivitas yang diterima Gatut juga menyatakan, Jawa Barat (Jabar), Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Tengah (Jateng) rata-rata memproduksi 7-8 ton per ha. Bahkan ada yang mencapai 10 ton per ha.

Sementara itu, produksi di luar Jawa banyak yang di atas 5 ton per ha. Hal tersebut sekaligus menepis kabar penurunan produktivitas akibat cuaca.

Terkait harga, dengan kadar air 15 persen masih d ikisaran Rp 4.600 per kg Gabah Kering Panen (GKP). Sedangkan beras medium di PIBC untuk IR 64 III adalah Rp 8.500 dan IR 42 Rp 11.500.

Dengan begitu, Gatut dan Sutarto sepakat bahwa ketersediaan beras dapat mencukupi kebutuhan selama menghadapi pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) dan Ramadhan.

“Maret kemarin produksinya belum di puncak seperti tahun-tahun lalu. Hal tersebut karena musim tanam petani bergeser. Banyak yang menanam pada Januari,” kata Sutarto.

Ia kembali mengakui, pemerintah sudah selangkah lebih maju mengantisipasi gejolak harga, sekaligus menghidupkan penggilingan skala kecil.

Senada dengan Sutarto, Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir juga menyambut positif langkah antisipasi pemerintah.

“Saya kira pemerintah sudah melakukan langkah inovatif dan strategis untuk meyakinkan rakyat bahwa ada solusi dari keterbatasan kondisi saat ini,” kata Winarno.

Dengan adanya Kostraling, Winarno berharap harga beras di tingkat petani pada puncak panen raya akan tetap stabil dan tidak sampai di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).

Sebagai informasi, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020 menyatakan, GBK memiliki HPP sebesar Rp 4.200 per kilogram (kg).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here