Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) sebagai unit pelaksana teknis dan kepanjangan tangan dari kementerian pertanian berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat khususnya petani, beberapa hari lalu BBPOPT kembali melakukan aksi nyata terjun lapangan, berupa kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Gerakan Pengendalian (Gerdal), yang dilaksanakan di kabupaten Cirebon, sebagai salah satu sentra penghasil padi di Jawa Barat yang potensial maka Cirebon menjadi prioritas target pengamanan produksi, selain Cirebon ada Karawang, Bekasi, Subang, Indramayu dan Bogor yang masuk ke dalam daerah pengamanan produksi.

Ditemui saat gerakan pengendalian Sawadi yang bertindak sebagai penanggung jawab pengamanan produksi kabupaten Cirebon mengatakan Gerdal ini dilakukan atas dasar hasil pengamatannya di lapangan yang menemukan serangan beberapa organisme pengganggu tumbuhan (OPT) khususnya Wereng Batang Coklat (WBC) dan Penggerek Batang Padi (PBP) adapun populasi dan serangannya sudah masuk kategori ambang pengendalian, untuk WBC populasi rata-rata 23 ekor/rumpun, pada tanaman umur 35 hst, terdapat di desa Gegesik Wetan kecamatan Gegesik

Sedangkan untuk PBP serangan terbesarnya terjadi di desa Karang Kendal Kecamatan Kapetakan, dengan rata-rata serangan sebesar 26 % pada umur tanaman 30-40 hst, menurut Sawadi populasi dan serangan seperti itu sudah masuk kategori untuk segera dilakukan pengendalian, akan sangat riskan bila dibiarkan dan berisiko menurunkan produksi atau bahkan gagal panen, tentu hal itu tidak boleh terjadi,

maka untuk mengantisipasi hal itu Ia berinisiatif mengajak Suwandi dan Makrip untuk mengadakan bimbingan teknis dan gerakan pengendalian, Suwandi adalah ketua kelompok Tani Tani Akur desa Panyingkiran, sedangkan Makrip adalah ketua kelompok tani Mujur Ngidul desa Karang Kendal, ketiganya tidak bergerak sendiri mereka berkoordinasi dengan DITLIN, BBPOPT, UPTD, POPT, PPL, Korluh, Kepala Desa beserta perangkatnya.

Pada hari pelaksanaan terkumpul massa sebanyak 25 orang, sebelum gerdal Sawadi memberikan penjelasan mengenai teknik aplikasi pestisida yang baik dan benar, pengaplikasian yang bijak harus memenuhi 5 kaidah tepat, 1. Tepat Jenis dan mutu pestisida, 2. Tepat Sasaran, 3. Tepat dosis dan konsentrasi, 4. Tepat waktu dan yang ke 5. Tepat cara.

Sawadi memaparkan beberapa hal penting yang harus dilakukan setelah gerakan pengendalian, karena berdasarkan pengalamannya para pelaku tani cenderung diam tanpa melakukan upaya lain setelah adanya pengendalian, padahal itu kurang tepat, menurutnya untuk memastikan tingkat keberhasilan dari pengendalian perlu dilakukan beberapa upaya yaitu: melakukan pengamatan 2-3 hari setelah gerakan pengendalian, hal itu untuk memastikan tingkat kematian OPT sasaran, bila masih ada populasi dan serangan OPT maka lakukan pengendalian susulan, berikutnya adalah meningkatkan kewaspadaan serta selalu berkoordinasi dengan petugas terkait keberadaan OPT, bila diperlukan lakukan aplikasi pestisida nabati atau Agen Pengendali Hayati (APH) jika populasi masih rendah, dan terakhir lakukan pengaturan air untuk menjaga kelembaban sehingga bisa menekan perkembangan OPT.

Setelah kegiatan Bimtek selesai Gerdalpun dimulai, tampak para peserta sangat antusias dan bersemangat dalam melakukan aksinya, berbekal handsprayer dan pestisida bantuan pemerintah, mereka mulai melakukan penyemprotan, dari rumpun ke rumpun dari petak ke petak, hingga selesai sudah acara pengendalian, salah satu peserta gerdal mengungkapkan kebahagiaannya, Ia merasa terbantu dengan adanya Bimtek dan Gerdal ini, karena selain OPT terkendali ada juga ilmu dan pengalaman yang Ia dapatkan, Ia berharap kedepan kerjasama seperti ini harus sering dilakukan agar pertanaman tetap aman dan produksi bisa meningkat sesuai harapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here