Jember, 16 Juni 2021, hari ini kementerian pertanian secara serentak melakukan gerakan pengendalian hama Tikus di Jawa Timur, hal ini merupakan bukti nyata keseriusan kementerian pertanian dalam upaya menekan serangan OPT dan meningkatkan hasil produksi

Untuk gerakan pengendalian di kabupaten Jember dikomandoi langsung oleh Ir. Darmadi, kepala Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Jember, bekerjasama dengan Dinas Pertanian, yang diwakili oleh kepala bidang tanaman pangan Ir. Susetyowati, berbekal informasi serangan tikus tertinggi dari Gunawan POPT Kencong dan Umbulsari, maka ditentukanlah titik pengendalian dilakukan di kelompok Tani Sri Rejeki desa Tanjungsari kecamatan Umbulsari.

Sebelum acara dimulai, Darmadi menyampaikan arahannya terkait hama tikus, menurutnya tikus adalah hama yang cerdik karena mampu belajar dari keadaan, untuk itu dalam pengendalianya perlu upaya khusus, tidak asal dikendalilan, Darmadi mencontohkan ketika tikus melihat temannya mati setelah memakan makanan yang berisi racun, maka tikus yang lain tidak akan memakan racun tersebut, maka dari itu diperlukan racun yang bekerja secara lambat dan tidak membunuh secara langsung ditempat, hal ini untuk menghindari kecurigaan tikus yang lain, oleh karenanya Ia dan Tim membawa racun tikus yang berbahan aktif brodifakum, yang bekerja secara lambat (antikoagulan), selain bahan pengendali berupa umpan beracun sebagai bantuan untuk petani, Ia juga membawa pertalite dan brankus, dikatakan oleh Darmadi dalam percobaannya pertalite terbukti bisa membunuh tikus dalam hitungan 5-6 menit, sehingga pertalite bisa dijadikan alternatif pengendali tikus yang murah dan mudah didapat, adapun cara penggunaannya yaitu dengan mengucurkan pertalite ke dalam lubang persembunyian tikus segera setelah itu ditutup dengan menggunakan lumpur atau tanah basah, sehingga gas pertalite tidak menguap keluar untuk kemudian terhisap oleh tikus dan merusak sistem pernapasannya sehingga pada akhirnya tikuspun mati, untuk penggunaan brankus caranya hampir mirip dengan pertalite, brankus dibakar kemudian dimasukkan kedalam lubang tikus lalu ditutup tanah basah.

Darmadi melanjutkan selain pengendalian yang ia barusan sebutkan ada juga pengendalian hayati yang tengah marak di kabupaten Jember, yaitu pengendalian dengan menggunakan burung hantu sebagai predator alami tikus, menurutnya pengendalian hayati ini sangat dianjurkan, karena tidak menimbulkan pencemaran dan dampak yang berbahaya bagi lingkungan, justru sebaliknya pengendalian hayati ini akan membantu kelestarian lingkungan serta keseimbangan ekosistem, senada dengan apa yang dijelaskan Darmadi, Susetyowati kemudian menginformasikan bahwa pihaknya telah menganggarkan dana untuk pembuatan Pakupon/Rubuha (Rumah Burung Hantu) sebanyak 496 unit, Ia berharap upaya pemerintah ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para petani, digunakan dan dirawat dengan sebaik-baiknya, sehingga lingkungan tetap Asri dan petani tetap berseri.

Koordinator POPT Jember, Mukrom, S.P yang turut serta pada acara itu, mengingatkan bahwa gerdal tersebut jangan sampai terhenti sampai disitu, perlu upaya lebih lanjut agar hasil yang didapat bisa maksimal, menurutnya pengendalian terbaik adalah dengan cara pengendalian secara serentak disemua wilayah dan dilakukan secara berkesinambungan, karena bila dikendalikan secara parsial disatu wilayah, maka kemungkinan besar tikus yang tersisa akan bermigrasi ke daerah lain, artinya ini akan membuka peluang tikus berkembang biak, dan tidak menutup kemungkinan nantinya akan kembali menyerang, Mukrom menghimbau agar pada musim tanam berikutnya para petani waspada dan melakukan tindakan secara dini, yaitu pengendalian tikus disaat populasi masih rendah, sehingga petani tidak kewalahan pada saat mengendalikannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here