Majalengka, 12 Agustus 2021, Memasuki bulan Agustus panen raya di Majalengka sudah hampir selesai, sepanjang jalan Tol Cipali, tampak singgang dan jerami yang bertumpuk, menunggu dimanfaatkan oleh petani jamur merang atau dibiarkan menjadi pupuk kompos alami, dua-duanya mempunyai nilai manfaat , yang harus dihindari adalah memusnahkan jerami dengan cara dibakar, sebab selain mengakibatkan polusi, juga zat hara yang terkandung didalamnya akan ikut menguap, sangat disayangkan bukan

Seluas 20 ha lahan sawah di desa Jatiwangi sudah siap untuk ditanami kembali, petugas POPT Jatiwangi Lutfi mengkonfirmasi kepada kami, bahwa Ia dan Koordinator POPT Majalengka Engkus Kusnadi telah bekerjasama dengan Kepala Desa Jatiwangi M Kholid, untuk mengadakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) pra tanam guna mengantisipasi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya hama tikus dan penggerek batang padi, untuk kegiatan tersebut mereka mengundang beberapa pihak yang terkait diantaranya Direktorat Perlindungan, Direktorat Serealia, BBPOPT, BPTP Jabar, POPT, Kord PPL, dan PPL.

Pada kesempatan tersebut hadir pula perwakilan dari komisi 4 yang membidangi pertanian yakni Dr. H. Sutrisno, SE, M.Si, dalam sambutannya Ia memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan gerdal, Sutrisno menilai kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mencapai target panen yang diharapkan, menurutnya produksi yang rendah atau bahkan kegagalan panen diakibatkan dari kurangnya perencanaan dan koordinasi sejak awal, banyak sekali petani yang rugi karena kurangnya persiapan dalam antisipasi terhadap serangan OPT, selain itu mereka cenderung bekerja sendiri-sendiri, sehingga kurang maksimal, untuk itu Sutrisno berpesan, agar semangat gotong royong sebagai tradisi para leluhur Kembali digalakkan dan senantiasa dipupuk, agar bisa dirasakan manfaatnya oleh semua, mari kita bekerja bersama-sama untuk menuntaskan langkah kita menuju pertanian yang mensejahterakan tutup Sutrisno.

Bertindak sebagai narasumber gerdal yaitu Turyadi dan Dianto keduanya berasal dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), dalam paparannya Turyadi menjelaskan tentang hama tikus dan teknik pengendaliannya, menurut Turyadi tikus adalah hama yang tergolong sulit dikendalikan karena mempunyai insting yang cerdik dan kemampuan untuk bertahan hidup dihampir semua kondisi serta  mampu belajar dari keadaan, untuk itu dalam pengendalianya perlu upaya khusus, tidak asal dikendalilan, terlebih dahulu harus melihat situasi dan kondisi berbagai faktor yang mendukung keberlangsungan hidup tikus.

Ia mencontohkan pengendalian tikus sebelum tanam dan pada saat tanam terdapat perbedaan pengendalian, begitupun pada saat tanaman vegetatif dengan tanaman memasuki generatif tentu lain lagi pengendaliannya, Turyadi melanjutkan pada saat pra tanam seperti sekarang teknik yang tepat adalah gropyokan, pembongkaran lubang aktif, dan pengemposan hal ini bertujuan agar tikus yang berada di dalam sarang persembunyian bisa dipastikan mati dan tak bersisa, sedangkan memasuki saat tanam teknik gropyokan dan penggalian lubang sudah tidak efektif, maka pengendalian yang dilakukan adalah pemberian umpan beracun, sedangkan pada saat tanaman generatif teknik yang sangat dianjurkan adalah pengemposan tutup Turyadi

Selain tikus dibahas pula tentang hama penggerek batang padi beserta teknik pengendaliannya, Dianto yang bertindak sebagai narasumber menerangkan bahwa terdapat 6 jenis penggerek yang biasa menyerang tanaman padi namun menurutnya yang paling sering dijumpai di pertanaman pada saat ini adalah penggerek batang padi kuning, untuk mendeteksi keberadaan penggerek sejak awal selain pengamatan langsung dilapangan, melihat lampu perangkap atau lampu luar penerangan jalan atau teras rumah bisa menjadi alternatif keberadaan penggerek yang ada di pertanaman, menurutnya bila dijumpai populasi penggerek di lampu penerangan maka itu saatnya petani bersiap untuk mengendalikan, ada beberapa jenis teknik pengendalian penggerek, tetapi untuk saat ini karena baru tahap pesemaian maka dirinya menganjurkan untuk mengendalikan secara mekanis, yaitu pengambilan kelompok telur penggerek secara manual lalu kemudian dimasukkan ke dalam bumbung bambu yang sudah disediakan dengan terlebih dahulu dilubangi dan sekitar lubangnya diolesi gemuk / stempet, dengan memasukkan kelompok telur kedalam bumbung diharapkan bisa mengundang musuh alami dari penggerek untuk kemudian telur penggerek dijadikan sebagai media berkembangbiak untuk musuh alaminya tersebut ungkap Dianto

Pada akhir gerakan pengendalian puluhan ekor tikus berhasil dikumpulkan, lalu kemudian diidentifikasi menurut umur dan jenis kelaminnya, pada saat itu juga, Turyadi melakukan praktek pembedahan untuk menunjukkan struktur reproduksi sekaligus melihat potensi kehamilan tikus betina, hal ini Ia lakukan selain untuk menambah wawasan petani juga berguna untuk memprediksi kemungkinan perkembang biakan tikus beberapa minggu kedepan. namun berhubung waktu yang tidak mencukupi maka kegiatan gerdal akan dilanjutkan esok harinya, dengan agenda yang sama, namun untuk memaksimalkan kegiatan gropyokan akan dibantu dengan anjing pemburu sehingga bisa mengendus tempat persembunyian tikus yang tidak terdeteksi oleh manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here