Rapat koordinasi evaluasi dipimpin oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Kuningan Aca Supirta, SP, MP, beliau menjelaskan tujuan dari rapat adalah untuk menentukan target Luas Tambah Tanam (LTT) Musim Tanam April sampai September (Asep), Penajaman kembali LTT dan Evaluasi dari TSP dari target yang sudah ditentukan. Sesuai data luas sawah yang di tetapkan oleh Agraria Tata Ruang – Badan Pertanahan Nasional (ATR-BPN), Kabupaten Kuningan memiliki luas sawah seluas 28.800 Ha. Evaluasi TSP disampaikan oleh Ir. H Mustaghfirin dengan cakupan Padi Jagung Kedelai (PJK) dengan pemantapan target sampai dengan 31 Oktober 2021. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) diberikan tanggung jawab oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) untuk menjadi TPS di enam Kabupaten di Jawa Barat. Mustaghfirin menekankan pentingnya tercapainya target atas pemenuhan kebutuhan pangan nasional terutama tanaman padi karena menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk di Indonesia sejumlah 271,35 juta dengan tingkat konsumsi perkapita pertahun sejumlah 117,75 Kg sehingga ketersediaan harus terpenuhi, kemudahan akses dan tanaman padi berkualitas, atas dasar kebutuhan yang sangat banyak tersebut Ditjen TP menetapkan target panen di tahun 2021 sejumlah 56,5 juta Hektar.

Target nasional produksi jagung sebesar 23,5 juta ton pipilan kering sebagai pemenuhan pakan ternak dan konsumsi masyarakat sedangkan target produksi kedelai dapat mengurangi kebutuhan untuk pembuatan tahu dan tempe dari kedelai impor 60 persen saat ini. Dari arahan Gubernur Jawa Barat yang menjelaskan bahwa jumlah penduduk Jawa Barat sejumlah 47 juta masih membutuhkan pasokan beras dari provinsi lain sehingga upaya peningkatan produksi padi masih harus dilakukan. Evaluasi yang dilakukan oleh tim TSP adalah membandingkan antara capaian luas tanam Asep 2021 dengan Asep 2020. Target penajaman LTT sampai 31 Oktober 2021 pada komoditas padi berdasarkan laporan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian dan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) terbesar di 4 Kecamatan yaitu Pasawahan (145 Ha), Mandirancang (197 Ha), Sindang Agung (173 Ha) dan Karang Kancana (193 Ha). Penajaman LTT Jagung sampai 31 Oktober 2021 di Kecamatan Darma (350 Ha), Cigugur (30 Ha), Cimahi (20 Ha) dan Maleber (45 Ha). Penajaman LTT Kedelai sampai 31 Oktober 2021 di Kecamatan Cidahu (2 Ha) dan Garawangi (3 Ha). Hasil komunikasi Dinas Pertanian dengan Perusahaan Umum Hutan Negara Indonesia (Perhutani) dari target 3000 Ha luas lahan hutan dapat ditanami kedelai sejumlah 900 Ha.

Evaluasi Luas Tanam Padi Oktober-Maret (Okmar) 2021 dibandingakan Okmar 2020 terdapat surplus 2228 Ha sedangkan Asep 2021 dibandingkan Asep 2020 turun 447 Ha. Evaluasi luas tanam jagung Asep 2021 dibandingkan Asep 2020 turun 307 Ha. Evaluasi luas tanam kedelai Asep 2021 dibandingkan Asep 2020 naik 93 Ha. Evaluasi TSP terjadi pengurangan luas tanam padi di Kecamatan Subang dan Cilebak dari potensi lahan sejumlah 300-400 Ha belum terkonfirmasi apakah terkonversi menjadi Jagung dan Kedelai. Didalam forum diskusi didapatkan informasi tentang tidak sinkronnya data Statistik Pertanian (SP) dengan data yang diinput di aplikasi Sistem Informasi Penguatan Data Pangan Strategis (SIPDPS). Petugas juga mengalami kendala tentang upload foto ketika berbeda stadia tanamnya sehingga aplikasi SIPDPS menganulir data lapangan yang tidak lengkap. Dikhawatirkan data LTT di lapangan tidak masuk, TSP memberikan saran agar data SP dan data SIPDPS sama-sama diinput.

Rapat koordinasi evaluasi dibuka oleh Kepala Dinas Pangan Pertanian, Keluatan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon Ir. H Yati Rohayati, beliau menegaskan walaupun kontribusi Kota Cirebon dalam pemenuhan produksi tanaman pangan nasional tidak sebesar Kabupaten lain bahkan membutuhkan ketersediaan pangan dari Kabupaten lain masih terus bersemangat untuk sumbangsih peningkatan produksi tanaman pangan. Luas kota cirebon 3810 ha dengan luas lahan baku pertanian seluas 149,77 ha. Petani di Kota Cirebon sebagian besar adalah petani penggarap, upaya yang dilakukan DPPKP dalam pemenuhan kebutuhan pangan salah satunya dengan pengelolaan Lahan Cadangan Pangan seluas 800 m2. DPPKP juga mengupayakan berjalannya Kampung Pangan Lestari dan Hijau (KPLH) dengan bekerjasama dengan instansi penyedia benih, menggalakan Urban Farming sebagai upaya mengatasi keterbatasan lahan. Evaluasi Tim Supervisi dan Pendampingan (TSP) Kota cirebon oleh Ir. H Mustaghfirin menjelaskan tentang peningkatan potensi kesanggupan recana tanam disesuaikan dengan luas baku sawah yang ada. Optimalisai penggunaan lahan untuk pertanian sebagai upaya mengurangi adanya lahan tidur yang tidak dimanfaatkan.

Menurut laporan yang disampaikan langsung oleh Kepala DPPKP realisasi luas tanam padi di Kota Cirebon musim tanam April sampai September (Asep) 2021 seluas 79,5 ha dengan rincian Kec. Harjamukti 57 ha, Kec. Lemahwungkuk 11 ha dan Kec. Kesambi 11,5 ha. Capaian realisasi tanam musim Asep 2021 (79,5 ha) dibandingkan dengan target tanamn Asep 2021 (75 ha) sebesar 106%. Kesanggupan penanggungjawab Luas Tambah Tanam (LTT) dalam rapat di Kecamatan Harjamukti seluas 96,3 ha, Kec. Lemahwungkuk 16 ha dan Kec. Kesambi seluas 10 ha sehingga total kesanggupan Kota Cirebon seluas 122,3 ha. Upaya meningkatkan LTT agar petani tetap menanam di musim kemarau dengan memasang pompa di dekat sungai sehingga kebutuhan air dapat terpenuhi. Indeks pertanaman (IP) padi kota Cirebon pada saat ini adalah 1,3 sehingga perlu ditingkatkan agar dapat lebih dari 2. Luas lahan baku yang ada tidak semua dimanfaatkan sebagai sawah untuk menanam padi tetapi juga digunakan untuk komoditas hortikultura seperti sayur-sayuran.

Upaya pengamanan produksi dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) juga dilaksanakan agar tidak banyak mengurangi produksi, salah satu yang cukup mengganggu adalah keong mas, rekomendasi TSP adalah petani melakukan pengendalian mekanis dengan memasang ajir bambu, sehingga ketika keong mas meletakan kelompok telur di ajir bambu tersebut lalu di kendalikan. TSP juga menyarankan agar ada pengawalan di daerah sekitar titik Kerangka Sampel Area baik penggunaan benih berkualitas maupun pengamatan OPT agar sampel dapat mewakili kondisi lapangan dengan keadaan yang baik. Petugas pengelola Sistem Informasi Penguatan Data Pangan Strategis (SIPDPS) harus aktif melaporkan perkembangan luas tambah tanam sehingga tidak terlewat dan sinkron dengan data Statistik Pertanian (SP). Kota Cirebon sebagai kota perdagangan membutuhkan pasokan tanaman pangan dari Kabupaten yang lain, pengelolaan budidaya pertanian yang lebih intensif dapat mengurangi ketergantungan tersebut. (Mustaghfirin, Rahmad G, Rospina L)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here