Kegiatan Pemberdayaan Petani dalam Pemasyarakatan PHT (P4) adalah satu kegiatan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan pada tahun 2021 dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi, partisipasi dan kemampuan petani dalam melakukan pengelolaan agroekosistem sesuai dengan prinsip dasar PHT serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengembangkan dan mengaplikasikan agens pengendali hayati. PHT merupakan suatu cara berpikir dan sebuah pergerakan dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan pendekatan ekologi yang menjadikan penggunaan pestisida kimiawi sebagai pilihan terakhir. Prinsip PHT mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan dan pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) yang ramah lingkungan.

Kegiatan P4 tahun 2021 dilakukan sebanyak 120 unit yang tersebar di 12 Provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Guna meningkatkan kompetensi petugas pendamping kegiatan P4, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan bekerja sama dengan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) melakukan kegiatan pelatihan dari tanggal 23 hingga 28 November 2021 di BBPOPT. Petugas pendamping yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 39 orang dari 12 provinsi yang melakukan kegiatan P4.

Kegiatan peningkatan pengetahuan dan kompetensi petugas pendamping P4 resmi dibuka oleh Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Mohammad Takdir Mulyadi. Beliau mengatakan, kegiatan P4 sangat penting untuk mendukung tugas Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan yaitu mengamankan pertanaman dari serangan OPT/DPI dalam rangka mendukung pencapaian target produksi. “Kegiatan P4 merupakan salah bentuk dukungan kegiatan di tahun 2021. Tujuan dari kegiatan P4 adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam menghasilkan, mengembangkan dan mengaplikasikan agens pengendali hayati, pestisida nabati, serta konservasi musuh alami. Dengan APH menjadikan kita untuk terus berinovasi,” tegasnya.

Kepala BBPOPT Enie Tauruslina sangat mendukung kegiatan ini dengan mempersiapkan fasilitator dan fasilitas untuk menunjang kegiatan pelatihan. “BBPOPT siap memfasilitasi kegiatan ini dengan sebaik-baiknya karena kegiatan ini sangat relevan untuk meningkatkan kompetensi petugas guna mendorong pengendalian OPT pangan dengan mengedepankan prinsip PHT. Hal itu pula yang menjadi tujuan kami di BBPOPT,“ jelasnya.

Suwarman selaku Koordinator Pelayanan Teknis, Informasi dan Dokumentasi BBPOPT menyambut baik kegiatan ini. Beliau menyampaikan beberapa informasi terkait laboratorium yang ada di BBPOPT. BBPOPT memiliki tujuh laboratorium yaitu laboratorium Agens Hayati, Fitopatologi, Entomologi, Molekuler, Pestisida Nabati, Vapor Heat Treatmen (VHT) dan Parasitoid Trichogramma. “Sebanyak tiga laboratorium dilibatkan dalam kegiatan peningkatan pengetahuan dan kompetensi petugas pendamping P4 yaitu laboratorium Agens Hayati, laboratorium Pestisida Nabati dan laboratorium Parasitoid Trichogramma. Selain diberikan materi oleh para fasilitator dari masing-masing laboratorium, petugas juga bisa langsung melakukan praktik sehingga pemahaman petugas lebih mendalam dengan praktik, jelasnya.

Pada sesi pelatihan di Laboratorium Agens Hayati, peserta diajak ke kebun percobaan untuk mengambil sampel tanah, tanaman sehat dan mencari serangga untuk eksplorasi dan langsung praktik cara eksplorasi. Setelah itu peserta melakukan praktik uji antagonisme, uji hipersensitivitas, identifikasi APH dengan mikroskop, perbanyakan APH serta aplikasi APH yang benar.

Tak kalah seru, pada pelatihan di laboratorium Pestisida Nabati, peserta diajak ke kebun koleksi pestisida nabati untuk mengenal berbagai tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabai, selanjutnya peserta diajak melakukan praktik pembuatan pestisida nabati secara sederhana yang mudah dilakukan di tingkat petani. Peserta juga melakukan praktik penyulingan minyak atsiri dan pembuatan PGPR.

Laboratorium Trichogramma menyampaikan materi antara lain cara eksplorasi parasitoid Trichogramma, perbanyakan Corcyra sebagai inang alternatif Trichogramma, perbanyakan Trichogramma, evaluasi aplikasi, perhitungan tingkat parasitasi dan pembuatan bumbung konservasi. Peserta juga diajak ke sawah di kebun percobaan BBPOPT untuk mengambil kelompok telur PBP.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi terus mendorong dan mendukung praktek-praktek kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berbasis alami dengan menggunakan agens hayati sebagai bahan pengendaliannya. “Dengan semakin meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya budidaya tanaman sehat demi keberlanjutan pertanian, diharapkan juga kesejahteraan petani turut meningkat karenanya. Hal ini turut mendukung percepatan terwujudnya pertanian maju, mandiri dan modern,” tegas Suwandi.

Sesuai arahan Mentan SYL, produksi pangan harus jalan terus tetapi hal-hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani juga harus dilakukan karena mereka ujung tombak ketahanan pangan negara kita. (rist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here