Belu, 08 Juni 2022, Pada pertengahan bulan Maret tahun 2022 Kabupaten Belu kedatangan tamu istimewa yakni presiden Joko Widodo, kehadiran RI satu di Belu tentu bukan hanya sekedar kunjungan biasa, melainkan meninjau proyek strategis kementerian pertanian yaitu Food Estate seluas 549 ha yang terbagi dalam 411 ha padi dan 148 ha jagung.

Kunjungan Joko Widodo ini menambah semangat para petugas dan petani untuk merealisasikan apa yang diharapkan bersama terkait dengan tujuan di kembangkannya proyek Food Estate yaitu meningkatkan  produksi  pangan  dan kesejahteraan masyarakat, menghemat dan menghasilkan devisa negara, mempercepat pemerataan pembangunan, menciptakan lapangan  kerja dan   kesempatan   berusaha, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi  wilayah dan perekonomian nasional.

Menindak lanjuti kunjungan Joko Widodo, Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Enie Tauruslina, selaku penanggungjawab pendampingan kegiatan integrated farming di Kabupaten Belu, pada tanggal 06 Juni 2022, melakukan kunjungan kerja dengan meninjau secara langsung ke lokasi  pengembangan penanaman jagung hibrida varietas R-7 di Blok C Desa Fatuketi Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu seluas 16 ha yang pengairannya berasal dari “Sistem Pengairan Sprinkle” yang telah dimodifikasi menjadi pengairan permukaan, selanjutnya lahan seluas 8 ha yang saat monitoring sedang dilakukan panen, juga akan ditanami jagung hibrida varietas R-7 dengan Sistem TOT (Tanpa Olah Tanah).

Di lapangan Enie didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Belu beserta petugas terkait mengadakan dialog dengan Ketua dan Anggota 3 Kelompok Tani di Kawasan Bendungan Rotiklot. Ia meminta agar kegiatan tanam jagung hibrida ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat menambah pendapatan dan kesejahteraan para petani, selain itu jagung juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan Ayam KUB yang telah dibantukan dalam program ini. Bapak ibu jangan berhenti sampai disini ya, ada atau tidak ada bantuan penanaman jagung harus terus berlanjut, bantuan hanya sekedar stimulus kedepan harus bisa mandiri, jangan takut gagal karena orang yang bekerja secara sungguh-sungguh akan berhasil, ungkap Enie dalam sesi diskusi, yang direspon dengan baik oleh segenap petani yang hadir.

Keesokan harinya Enie mengadakan Pertemuan Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Integrated Farming di Kabupaten Belu yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan beserta staf, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan beserta staf, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat beserta staf.

Enie menjelaskan bahwa Integrated Farming adalah Sistem pertanian dengan upaya memanfaatkan keterkaitan antara tanaman, hewan ternak dan perikanan, untuk mendapatkan agroekosistem yang mendukung produksi pertanian, peningkatan ekonomi dan pelestarian sumberdaya alam, Ia menambahkan prinsip Integrated Farming adalah zero waste yaitu limbah suatu kegiatan bisa dimanfaatkan untuk input kegiatan lainnya, sehingga tidak ada limbah yang terbuang, prinsip berikutnya adalah menjaga keseimbangan ekosistem serta mendorong konservasi habitat dengan cara menerapkan pertanian organik agar tercipta pertanian berkelanjutan terang Enie.

Pada kesempatan itu Ia juga meminta agar seluruh Dinas yang terkait di Kabupaten Belu memberikan dukungan penuh untuk terlaksana dan suksesnya Integrated Farming.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan kabupaten Belu, Gela A. Lay Rade menyampaikan bahwa, Dinas Pertanian Kabupaten Belu mendukung sepenuhnya program dan kegiatan Integrated Farming ini, yang meliputi (1) Pengembangan Budidaya padi seluas 411 ha yang tersebar di Desa Fatuketi, Umaklaran dan Manleten, (2) Pengembangan Budidaya Jagung seluas 148 ha yang tersebar di Desa Fatuketi, Umaklaran dan Leosama, (3) Pengembangan Hortikultura  Bawang Merah (10 ha), Bawang Putih (30 ha), Cabe Besar (10 ha) dan Mangga (10 ha), (4) Pengembangan Kelapa Genjah seluas 10 ha, (5) Bantuan Alat Mesin Pertanian Traktor Roda-4 (2 unit), Traktor Roda-2 (4 unit), Alat Tanam Jagung (100 unit), Embung (4 unit), dan (5) Peningkatan Kapasitas SDM Pertanian untuk 120 orang, Peningkatan Kelembagan petani sebanyak 9 unit, dan Pengawalan dan Pendampingan Penyuluh Pertanian sebanyak 70 orang.

Senada dengan Gela, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan kabupaten Belu, Yous S. Djami mengatakan bahwa, Dinas PKH Belu mendukung program dan kegiatan Integrated Farming ini meliputi (1) Bantuan Ayam KUB sebanyak 10.000 ekor, (2) Bantuan Telur Ayam sebanyak 200.000 butir untuk membantu mengatasi “stunting”, (3)   Bantuan Sapi potong sebanyak 180 ekor yang akan dialokasi di Kecamatan Tasifeto Timur dan Barat, (4) Rumah Potong Hewan 1 unit, dan (5) Puskeswan sebanyak 3 unit.

Pada sesi penutup, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Yasintus P. Ulu Uki menyampaikan bahwa, Dinas PUPR juga mendukung sepenuhnya program dan kegiatan Integrated Farming berupa (1) Optimalisasi Penyediaan Air di Kawasan Bendungan Haliwen untuk mendukung Kegiatan di Desa Umaklaran, (2) Optimalisasi Penyediaan Air di Kawasan Bendungan Rotiklot untuk mendukung Kegiatan Integrated Farming di Desa Fatuketi, dan (3) Optimalisasi Penyediaan Air di Kawasan Bendungan Haekrit untuk mendukung Kegiatan Integrated Farming di Desa Manleten.

Melansir apa yang dikatakan Menteri Pertanian Syahrul Yain Limpo bahwa Food  Estate ini  diharapkan bisa mendongkrak hasil panen, dengan produktivitas jagung lebih dari 7 ton/ha dan padi  lebih dari 8 ton/ha. Jika  hal tersebut tercapai maka penerimaan  dari jagung dan padi akan signifikan,     belum     termasuk    hasil dari introduksi     komoditas aneka sayur untuk  memanfaatkan fasilitas pengairan yang telah dibangun, maka dalam jangka waktu yang tidak lama lagi, swasembada pangan akan segera tercapai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here