Jakarta, Workshop penilaian kerusakan tanaman metode baru dan penggunaan peta persil pertanian untuk pengambilan keputusan dalam pengelolaan lahan dilaksanakan di Gedung Pertemuan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan (Ditlin TP) pada tanggal 13 September 2022.

Acara dibuka oleh Direktur Ditlin TP Mohammad Takdir Mulyadi, Takdir Mulyadi memberikan arahan pentingnya kerja keras dan inovasi dalam rangka melakukan optimalisasi pemanfaatan lahan mengurangi kerugian hasil karena Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), kekeringan dan banjir. Narasumber pertama Chiharu Hongo menyampaikan kegiatan Science and Technology Research Partnership for Sustainability Development Program (Satreps) sudah dilaksanakan sejak 2017 kerjasama Institut Pertanian Bogor, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, Universitas Udayana, Dinas Pertanian Kabupaten Badung, Chiba University, Tohoku University, Nihon University, The University of Tokyo dan National Agricultural Insurance Association Jepang. Hasil kerjasama program sudah banyak dipublikasikan di Jurnal-jurnal, Satreps menggunakan berbagai teknologi sebagai metode penilaian kerusakan tanaman, penggunaan penyimpanan dari Google Drive, Network Attached Storage (NAS) dan ArcGIS Hub, penggunaan Citra Satelit Optik dan Radar, penggunaan Drone dan Hyperspectral. Aplikasi metode dilapangan yang dikembangkan antara lain pemetaan kekeringan, banjir dan penyakit tanaman padi Bacterial Leaf Blight (BLB).

Rencana dan harapan untuk metode penilaian kerusakan baru OPT oleh Lilik Retnowati, mewakili Ditlin TP menyampaikan strategi dan kebijakan perlindungan tanaman, apresiasi luar biasa peran Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dalam mengawal pengamanan produksi tanaman pangan, luasnya tanggung jawab POPT dan banyaknya objek pengamatan yang diamati baik metode pengamatan petak tetap dan petak keliling yang menggambarkan keadaan tanaman. Penguatan teknologi berupa fasilitasi pengkajian inovasi teknologi merupakan strategi Ditlin TP dalam mewujudkan capaian kinerjanya. Ditemui terpisah, Lilik Retnowati mengharapkan peran yang lebih dilingkup internal Kementerian Pertanian seperti Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) dan Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) untuk bersama-sama mengembangkan teknologi penilaian kerusakan serangan OPT menggunakan teknologi penginderaan jauh, teknologi yang direkomendasikan Satreps merupakan masukan penting untuk memperbaiki metode pengamatan OPT.

Baba Barus dari Satreps menyampaikan bahwa petugas pertanian secara umum lemah dalam penggunaan alat, Barus mencontohkan dari pemetaan yang dilaksanakan di Cihea, Cianjur, Jawa Barat, lahan tersebut tidak membutuhkan unsur Phospor karena ketersediaanyya melimpah, tidak adanya pengukuran menggunakan alat pertanian, pemupukan Phospor tetap dilakukan oleh Petani. Machine learning dapat dimanfaatkan sebagai metode pengolahan citra satelit optik dan berbasis radar untuk prediksi sebagai alternatif aplikasi kalender tanam yang sudah ada, selain itu machine learning juga bisa difungsikan sebagai metode untuk menghitung jumlah rumpun tanaman dalam sebuah petakan sawah. Di sesi berikutnya ada pertanyaan apakah kebijakan penggunaan penginderaan jauh untuk peniaian kerusakan OPT harus dilaksanakan secara top down karena pengolahan penginderaan jauh memiliki kesulitan yang tinggi sehingga POPT bertugas melakukan verifikasi kebenaran lapangan. Jawaban dari narasumber dalam kegiatan Satreps menekankan ke keterampilan POPT untuk dapat mengoperasikan drone sendiri sehingga dapat melaksanakan penilaian kerusakan tanaman karena OPT secara mandiri. Pertanyaan selanjutnya peserta dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) apakah data output aplikasi yang dikembangkan oleh Satreps dapat di overlay dengan produk pengolahan data penginderaan jauh sudah dikembangkan. Overlay peta merupakan upaya untuk mendapatkan informasi spasial yang lebih lengkap dan terintegrasi, sehingga semakin banyak informasi spasial maka semakin banyak pula faktor yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Materi berikutnya dari Takuro Mukae dari Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, penggunaan aplikasi eMAFF untuk meningkatkan produktivitas kerja prosedur administrasi terkait informasi lahan pertanian. Aplikasi eMAFF dapat mengurangi kelemahan birokrasi yang membutuhkan dokumen cetak yang banyak. Peralihan dari sistem manual ke Digital tentunya banyak permasalahan seperti lambatnya komputer yang tersedia, tidak sinkron produk petanya, tidak jelas kepemilikan lahan dan penulisan huruf kanji yang berbeda. Kelebihan apabila sudah menggunakan peta persil tanah maka informasi dapat lebih detail dari komoditas tanaman yang ditanam sampai kepemilikan lahan pertanian. Bagi petani aplikasi eMaff dapat diakses sehingga mengetahui luasan, kondisi lahan yang dikelola hingga dapat mengajukan kebutuhan Alsintan.

Materi terakhir dari Henri Douche perwakilan SCOR perusahaan reasuransi yang salah satunya bergerak dibidang pertanian dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dalam melakukan penilaian tingkat kerusakan tanaman. Pemanfaatan piranti untuk mengetahui biofisika tanaman baik menggunakan informasi citra satelit, data iklim dan database tutupan lahan dapat digunakan untuk mengetahui peta kehilangan hasil tanaman budidaya maupun rumput untuk pakan ternak. Pembagian peta resiko memudahkan untuk perhitungan resiko usaha pertanian diberbagai tempat, aplikasi berbasis website dan mobile menjadikan layanan lebih cepat dan dapat diakses oleh banyak pihak. Materi yang kedua adalah penerapan digital dalam pertanian, transformasi yang diharapkan adalah peningkatan kualitas produk, perlindungan dari perubahan iklim dan pengurangan karbon pertanian. Pertanian presisi memungkinkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan nitrogen dan air sehingga dengan teknologi digital yang dibangun akan dapat efisien dalam penggunaan berbagai input dari luar. Henri Douche mencontohkan penggunaan teknologi digital dalam menangani penyakit tanaman pisang, anggur, tomat dan ternak sapi di Prancis. Aplikasi digital memungkinkan untuk menterjemahkan prediksi cuaca umum menjadi prediksi agro meteorologi atau prediksi cuaca untuk petani sehingga dapat secara signifikan mengurangi kehilangan hasil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here