Sukoharjo, 08 November 2022 – Sampai saat ini serangan OPT masih menjadi kendala utama dalam budidaya tanaman disamping pengaruh perubahan iklim, salah satu OPT yang perlu diwaspadai adalah tikus.

Berbagai cara telah dilakukan untuk menekan serangan tikus di lapangan, diantaranya gropyokan, pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu, penggunaan umpan beracun, emposan, jaring, maupun penangkaran burung hantu, dan saat ini sosialisasi antisipasi pengendalian tikus dengan menggunakan Bioyoso, yang diracik oleh seorang petani senior di daerah Sukoharjo, tepatnya di desa Tegalsari, kecamatan Weru, nama Bioyoso sendiri diambil dari nama sang peramu yaitu Yoso Martono Suyadi.

Untuk mengecek kebenaran info yang berkembang di media, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) langsung menindak lanjuti ke lapangan, menemui bapak 2 orang anak yang dalam kesehariannya akrab disapa Mbah Yoso

Menurut pengakuan mbah Yoso, ramuan Bioyoso yang dibuatnya merupakan pestisida berbahan alami guna mengendalikan hama tikus, nantinya tikus yang memakan umpan ramuan Bioyoso akan mati dalam waktu sekitar 2 mingguan, kalau tidak mati tikus tersebut akan mengalami kemandulan atau giginya menjadi rontok, sehingga tikus tidak bisa berbuat apa-apa, ungkap mbah Yoso dengan penuh semangat.

Selanjutnya mbah Yoso menerangkan bagaimana teknik pembuatan dari ramuan yang sudah Ia buat selama bertahun-tahun tersebut, bahan-bahannya tidaklah terlalu sulit karena murah dan mudah di dapatkan di sekitar kita, yakni 1 kilogram kulit pohon kamboja yang sudah di rajang, 1 kilogram umbi gadung dipotong-potong, 1 kilogram bekatul, 10 butir ragi tape, dan seperempat kilogram beras, terangnya.

Kemudian semua bahan tersebut dicampur lalu ditumbuk atau bisa juga dimasukkan ke dalam alat penghancur makanan sampai halus dan merata, setelah itu dikeringkan dengan cara dijemur, pengeringan bertujuan agar umpan tidak busuk dan bisa bertahan lama, nah setelah kering umpan siap untuk ditaburkan di sawah, urai mbah Yoso

Sebelumnya ia menceritakan bagaimana dirinya menemukan Bioyoso terinspirasi dari resep leluhurnya, ketika mengalami sakit gigi, para orang tua menganjurkan saya untuk mengobatinya dengan menggunakan kulit pohon kamboja, yang biasa terdapat di pemakaman umum, dan hasilnya mujarab, sakit giginya sembuh bahkan ada yang tanggal, dari situlah saya ingin menerapkannya untuk tikus, beber petani yang kini memasuki usia 70 tahun lebih.

Diusianya yang sudah tidak muda lagi, mbah Yoso tetap semangat untuk bertani, Ia masih sering pergi ke sawah untuk merawat tanaman-tanamannya, bahkan Ia terlibat aktif di kelompok tani Samekto sekaligus menjadi ketua kelompoknya, kebetulan sekali pada waktu itu saat ditemui di rumahnya, mbah Yoso beserta anggota kelompok tani Samekto sedang mengadakan pembuatan Bioyoso, PGPR, dan agens pengendali hayati Paenibacillus polymixa.

Sehingga tim BBPOPT yang langsung di pimpin oleh Enie Tauruslina selaku kepala balai, mendapatkan momen yang tepat untuk mengenal lebih jauh tentang metode pengendalian tikus dengan Bioyoso.

Dalam kesempatan tersebut, Enie menyampaikan apresiasi kepada mbah Yoso yang telah melakukan terobosan usaha tani dengan membuat ramuan Bioyoso, menurutnya apa yang dilakukan oleh mbah Yoso adalah sebuah inovasi yang harus di dukung, hal ini sejalan dengan arahan menteri pertanian agar terus melakukan inovasi menuju pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Setiap usaha itu tidak sia-sia, sekecil apapun akan mempunyai dampak yang bisa dirasakan, daripada sekedar kata-kata tanpa fakta, begitupun sebuah ide besar tidak akan pernah terwujud kalau tidak dilakukan. saya menilai mbah Yoso ini adalah sosok manusia ulet yang pantang menyerah dan selalu berusaha untuk mewujudkan semua harapannya, hingga pada akhirnya bisa menemukan formula Bioyoso, inilah yang harus kita contoh dari seorang Mbah Yoso, tegas Enie.

Enie melanjutkan, Bioyoso telah memenuhi 2 hal yaitu inovasi dan ramah lingkungan, patut kita acungkan jempol atas semua usaha yang telah dilakukan mbah Yoso, terlepas dari hasil dan efektifitasnya yang perlu diuji lebih lanjut, untuk hal tersebut pihaknya akan membantu dari segi pengujian yang akan dilakukan BBPOPT.

Upaya yang telah dilakukan oleh Mbah Yoso tidak sia-sia, pada 22 Juni 2022 Ia mendapatkan piagam penghargaan dari menteri pertanian RI Syahrul Yasin Limpo, sebagai stakeholder berinovasi kementerian pertanian dalam kategori pembuat pestisida nabati pemandul dan perontok gigi tikus. Tentunya hal ini harus menjadi pemicu bagi semua kalangan agar bisa menciptakan inovasi-inovasi yang lain. Semoga

2 COMMENTS

  1. Mantap. Terimakasih atas informasinya. Inovasi baru bioyoso semoga bisa menekan perkembangan hama tikus di pertanaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here