Karawang, 18 November 2022 – Hari ini Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) kedatangan tamu kehormatan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, kunjungan ini bukanlah kunjungan biasa melainkan membawa misi besar untuk mempromosikan dan mendorong perluasan ekspor buah tropis Indonesia ke Jepang, terutama komoditas Mangga dengan tema Trip on Indonesian Tropical Fruit Market Access.

Kedatangan pihak KBRI tidak sendiri, mereka membawa delegasi bisnis dan pengusaha Jepang supaya bisa melihat langsung bagaimana tata kelola dan budidaya buah tropis dilakukan di Indonesia khususnya Jawa Barat, dimana saat ini upaya serius pemerintah sudah dilaksanakan, dari mulai riset, teknik budidaya hingga perlakuan setelah panen, hal ini dimaksud untuk menarik minat para pengusaha dan importir Jepang.

Dimana potensi ekspor buah tropis Indonesia ke Jepang cukup tinggi mengingat swasembada buah di Jepang tercatat hanya dapat memenuhi 39% dari total kebutuhan dalam negeri dengan total nilai impor buah ke Jepang mencapai USD 3,56 Milyar pada tahun 2021. Filipina dan Amerika Serikat menjadi dua negara terbesar yang menyuplai buah ke pasar Jepang, masing- masing senilai USD 902 juta dan USD 842 juta. Sementara itu, total impor buah Indonesia ke Jepang terdapat pada USD 3,16 juta dengan mayoritas komoditas pisang dan nanas.

Rombongan KBRI diterima langsung oleh Kepala BBPOPT Enie Tauruslina, yang menyambut mereka dengan penuh sukacita, pada sambutannya Enie menyampaikan rasa bangganya bisa bertemu dengan pihak KBRI dan para delegasi bisnis Jepang, sekaligus membuka ruang diskusi untuk membahas peluang pembukaan akses ekspor komoditas mangga Indonesia ke Jepang.

Enie mengatakan pihaknya siap bekerjasama dengan semua pihak termasuk KBRI dan utusan pengusaha Jepang, Ia menyinggung keberadaan laboratorium Vapor Heat Treatment (VHT) yang sudah sejak 2010 konsen dalam penelitian lalat buah, “sudah sejak 2010 kami terus melakukan kajian terkait lalat buah, terutama yang menyerang komoditas Mangga Gedong, Mangga Arumanis, Buah Naga, Melon, dan Salak. Hal ini menunjukkan bahwa BBPOPT mempunyai komitmen untuk mendukung ekspor buah ke Jepang”, ungkap Enie.

Ia juga memohon agar pihak KBRI bisa memfasilitasi kerjasama dalam hal peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) berupa pelatihan serta transfer teknologi kepada pemerintah Jepang, “kita tahu bahwa Jepang adalah salah satu negara maju dan menjadi kiblat bagi teknologi, untuk itu perkenankan saya memohon agar KBRI bisa menjembatani kerjasama dengan pemerintah Jepang, baik berupa pelatihan, transfer teknologi, maupun sarana dan prasarana teknologinya itu sendiri”, terangnya

Permohonan itu direspon baik oleh Rima Cempaka Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI, dengan menyanggupi apa yang dipinta oleh Enie, “Terkait permintaan kerjasama dari bu Eni, kami akan sampaikan dan siap memfasilitasi peningkatan kapasitas dan pelatihan SDM, banyak peluang kerjasama yang bisa dimanfaatkan, apalagi program ini untuk mendukung kebaikan bagi semua pihak, mendorong lebih erat kerjasama di bidang ekspor impor hasil pertanian”, jelas Rima.

Rima melanjutkan, “Upaya ke arah tersebut telah dirintis oleh bapak menteri pertanian dengan mengadakan komunikasi bersama perdana menteri Jepang, kami juga mengucapkan terimakasih kepada kementerian pertanian dalam hal ini BBPOPT yang telah mempersilahkan kami untuk berkunjung ke laboratorium VHT, tempat uji perlakuan uap panas pada buah-buahan diterapkan”, urai Rima.

“Perlu bapak ibu ketahui bahwa saat ini, selain membawa delegasi bisnis Jepang, kami juga hadir bersama dengan mitra kami yaitu Institut Pembangunan Jawa Barat (INJABAR) UNPAD, yang telah mengambil kesepakatan untuk bekerjasama dengan kami beserta kementerian pertanian, mengundang pelaku bisnis Jepang untuk menyampaikan pesan kepada pemerintah 2 negara akan kesiapan bisnis untuk segera mendorong perdagangan masuknya buah-buahan tropis ke Jepang”, bebernya.

“Harapan kami dengan membawa pelaku usaha Jepang ke Indonesia, mereka dapat melihat sendiri bagaimana praktek dan pelaksanaan di lapangan sehingga semakin yakin akan kesiapan dan keseriusan Indonesia untuk mendukung ekspor buah-buahan tropis ke Jepang”, tutupnya

Ichi Hayasi salah satu delegasi Jepang yang turut hadir, menyatakan kekagumannya dengan penerimaan masyarakat dan petani Indonesia juga BBPOPT, yang telah dengan antusias menyambut mereka, Ia berterimakasih karena dengan dukungan KBRI Tokyo kini Ia bisa hadir dan mendapatkan sambutan hangat dari BBPOPT.

Menurut Hayasi Jepang adalah negara dengan luas wilayah yang kecil, bila ada hal baru yang negatif akan mudah menyebar, untuk itu Jepang sangat konsen dengan karantina, Japan International Cooperation Agency (JICA) sudah menginisiasi untuk penelitian terkait masalah mangga dan sudah berjalan hampir 10 tahun tapi menurutnya belum tuntas, Ia mengajak agar memulai kembali program yang sudah di rintis sejak lama tersebut.

Hayasi optimis kunjungan ini akan menjadi pertimbangan bagi Ia dan kawan-kawan untuk menyampaikan kepada pihak Jepang bahwa buah-buahan dari Indonesia itu aman, lebih lanjut Ia ingin tahu seperti apa VHT itu, dirinya menyatakan bahwa kemarin Ia bersama rombongan sudah mengadakan kunjungan ke kebun mangga sekaligus menikmati enaknya mangga Indonesia, dan bertemu dengan petani mangga yang menyambut dengan penuh kehangatan.

Ia yakin kerjasama ini bisa terus berlanjut, pada kunjungan hari ini Ia berharap bisa melihat teknologi VHT secara langsung, dan bisa mendapatkan riset ataupun data yang bisa dibawa ke Jepang, karena rencananya minggu depan Hayasi akan bertemu dengan orang-orang penting yang ada di Jepang dalam upaya negosiasi untuk membuka kran ekspor buah mangga ke Jepang.

Apa yang disampaikan oleh Hayasi, didukung oleh Ransan Sudimian dari Washington Trading yang ikut dalam rombongan, sebagai sesama pelaku bisnis Ransan mengaku sangat tertarik dengan buah-buahan dari Indonesia khususnya mangga, Ia menceritakan pengalamannya 8 tahun yang lalu waktu berkunjung ke Bali, saat itu Ia mencicipi Mangga Arumanis yang rasanya sangat enak, mendorong Ia ingin memboyongnya ke Jepang.

Ransan adalah orang Pakistan dan telah lebih dari 30 tahun tinggal di Jepang, kini Ia telah resmi menjadi warga negara Jepang, awalnya Ia berusaha dalam bidang restoran, dan mulai 10 tahun yang lalu dia merambah bisnis mangga dan jadi importir mangga dari India serta Pakistan, menurutnya Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar, melebihi India dan Pakistan yang hanya mampu memproduksi untuk jangka waktu 3 bulan saja itupun dengan tonase 300 – 500 ton.

Ransan membeberkan saat ini mangga yang beredar di Jepang kebanyakan berasal dari Thailand dan Filipina sekitar 1700 – 2000 ton, kepada yang hadir Ia mengajak untuk meningkatkan kerjasama, “Mulai saat ini mari kita bersama-sama berjuang baik dari petaninya maupun dari pemerintah, supaya tahun depan bisa ekspor ke Jepang dan saya siap menerima 500 ton mangga dari Indonesia”, tegasnya.

Sementara itu Direktur Buah dan Florikultura Liferdi, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia siap menyiapkan mangga dengan standar kualitas yang diharapkan oleh Jepang, Ia berseloroh “kalau Filipina saja bisa semestinya Indonesia pun bisa, karena antara Filipina dan Indonesia mempunyai kesamaan agro ekosistem kalau Filipina bisa menanggulangi kita pun bisa menanggulangi, kalau Thailand bisa Indonesia pun pasti bisa”, tukas Liferdi.

Rencananya di bulan Desember Ia akan berkunjung langsung ke Jepang dan menyambangi restoran milik Ransan, “Desember nanti saya akan pergi ke Jepang sebagai bagian dari promo dan mampir ke restoran Ransan membawa mangga spesial  giant manggo”, ucap Liferdi seraya tersenyum.

Lebih lanjut Ia memberitahukan kepada delegasi Jepang bahwa petugas berseragam hitam yang ditemui kemarin saat kunjungan lapang ke perkebunan petani adalah Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang tugasnya adalah melakukan pengamatan dan pengendalian hama–hama pengganggu pada tanaman mangga yang dilatih di BBPOPT.

“Biasanya yang punya program yang mempromosikan, namun pada hari ini justru importirnya langsung yang datang kesini, suatu penghargaan luar biasa yang harus kita sambut dengan baik”, pungkas Liferdi.

Profesor Anang yang mewakili INJABAR turut buka suara, “ekspor mangga gedong pada dasarnya berkaitan dengan rangkaian siklus yang panjang, persoalan lapangan terkadang tidak mudah untuk diatasi, namun kemarin sore beberapa bagian itu sudah bisa diurai, keberhasilan program ini membutuhkan garda atau pengawal, ditingkat daerah dan masyarakat kami dari INJABAR akan membantu diantaranya bagaimana mempersiapkan proses di lapangan, dan BBPOPT menjadi pengawal kualitas tersebut, apabila hal itu bisa bersinergi dengan baik maka kuantitas serta kontinuitas suplai ekspor buah-buahan tropis Indonesia bisa kita wujudkan”, terang Anang menutup pembicaraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here