Jakarta, 6 Desember 2022. Kegiatan Penelitian Kebutuhan Air Irigasi Penyiapan lahan merupakan kerjasama  Direktorat Irigasi dan Rawa, Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupr) dengan Peneliti Ahli Teknik Geomatika dan Teknik Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) merupakan salah satu lokasi penelitian berdasarkan kriteria iklim Oldeman dan kesiapan dalam penggunaan irigasi modern. Kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) Update penghitungan kebutuhan air Irigasi dilaksanakan di Century Park Hotel Senayan. Direktorat Air dan Irigasi menekankan pentingnya metode penghitungan kebutuhan air irigasi yang sesuai dengan keadaan budidaya pertanian yang dilaksanakan oleh petani. Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan bisa diterapkan di lahan-lahan budidaya padi sawah yg tidak banyak memerlukan air tetapi memberikan hasil produksi cukup tinggi. Di samping itu, “metode penelitian yg digunakan signifikan dalam pengelolaan lahan sawah yg terintegrasi dengan otomatisasi irigasi”. Pengamanan produksi memerlukan perencanaan yang matang berdasarkan hasil penelitian yang akurat. Dalam pemanfaatan air di sawah, irigasi merupakan masukan penting dalam budidaya pertanian khususnya tanaman padi. Padi merupakan tanaman pangan pokok masyarakat Indonesia, padi adalah tanaman yang membutuhkan banyak air dalam budidayanya. Aplikasi di lapangan penggunaan air tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan hamparan atas air sehingga kebutuhan air irigasi dalam rangka penyiapan lahan harus dikelola dengan baik dalam aspek kebutuhan tanaman atas air dan pembagian air dalam suatu hamparan yang terkait erat dengan kepemilikan / hak atas pengolahan lahan.

Dalam paparannya peneliti Geomatika Muh Yanuar J. Purwanto dan Peneliti Teknik Lingkungan  Chusnul Arif menyampaikan Kriteria Perencanaan Irigasi, update waktu dan genangan Kebutuhan Air Irigasi Penyiapan lahan, sebaran tekstur tanah (perkolasi), sebaran musim hujan (curah hujan efektif), genangan (water layer replacement) dan konsep perhitungan kehilangan air. Perhitungan kebutuhan air selama penyiapan lahan berdasarkan Van De Goor dan Ziljstra (VGZ) dapat diupayakan koreksi dengan melakukan pengukuran dan pengamatan di lapangan dengan mempertimbangkan mekanisasi agar lebih cepat dan efisien, hemat air dengan penggenangan optimal dan periode pengolahan tanah yang lebih singkat (VGZ sampai 45 hari). Berdasarkan hasil penelitian, telaah kritis dan evaluasi dalam rangka perbaikan metode tersebut antara lain mempercepat skenario persiapan lahan 30 sampai 45 hari menjadi 20 dan 30 hari dengan menggunakan traktor roda 2 (TR2) dan traktor roda 4 (TR4). Asumsi perkolasi saat ini masih kasar belum mempertimbangkan properties tanah lebih detail.  Adanya ‘Genangan’ memungkinkan  pola pemberian air irigasi, penyiapan lahan dengan lebih hemat sesuai perkembangan dinamika di lapangan/petani. Terakhir, validasi pengamatan dan pengukuran saat ini sudah semakin terukur karena teknologi pengukuran saat ini dapat menghasilkan data yang lebih akurat dan secara realtime dan dapat digunakan untuk mengevaluasi secara lebih baik.

Dalam menentukan lokasi kegiatan menggunakan Zonasi hujan (tipe iklim) yang sesuai untuk pertanian yaitu Oldeman. Oldeman terdiri dari Zonasi hujan A (A1, A2) yang sesuai untuk budidaya padi terus-menerus namun produksi agak rendah karena kerapatan fluks matahari rendah sepanjang tahun. Zonasi hujan B (B1, B2) yang sesuai untuk tanaman padi terus menerus dengan perencanaan awam musim tanam yang baik, dan atau  dapat dibudidayakan padi dua kali setahun dengan varitas umur pendek dan musim kering pendek untuk palawija. Zonasi hujan C (C1, C2, C3, C4) Budidaya padi sekali dan palawija dua kali dalam satu tahun, dan atau tanam padi sekali dan palawija dua kali setahun namun tanam palawija kedua harus hati-hati karena jatuh di musim kering. Lokasi yang dipilih adalah Provinsi Jawa Barat (termasuk BBPOPT) dan Sulawasi selatan (Kabupaten Gowa dan Wajo). Dalam Kriteria Perencanaan Bagian Irigasi (Kemenpupr) kebutuhan air selama penyiapan lahan dihitung menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Van De Goor dan Ziljstra (1968), metode tersebut didasarkan pada laju air konstan dalam lt/detik selama periode penyiapan lahan. Kebutuhan air sawah ditentukan oleh Penyiapan lahan, Penggunaan konsumtif, Perkolasi dan rembesan, Pergantian lapisan air dan Curah hujan efektif. Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh, yang tertekan di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh), perkolasi pada jenis tanah liat (clay) dapat mencapai 1-2 mm/hari.

Hasil penelitian terkait adalah model VGZ dikembangkan untuk memberikan air irigasi dengan laju air konstan (l/dt), sedangkan model water balance analysis (WBA) dikembangkan dengan indikator komando water management secara berselang. Model VGZ membutuhkan air irigasi yang lebih banyak dibandingkan model WBA. Model WBA membutuhkan air yang lebih banyak pada awal persiapan lahan untuk memenuhi kebutuhan indikator komando. Analisis keseimbangan air atau water balance analysis merupakan analisis siklus air yang seimbang dimana besarnya aliran air yang masuk atau ketersediaan (inflow) dan keluar kebutuhan (outflow) siklus adalah sama. Kehilangan air di saluran terutama pada saluran primer dan sekunder yang dimasa depan merupakan saluran lining (penahan erosi) menjadi faktor utama besarnya kehilangan air. Kehilangan saluran merupakan nilai kehilangan air di saluran sepanjang jaringan sampai ke hilir. Pada saluran primer dan sekunder yang seluruhnya lining, maka efisiensi penyaluran dapat ditetapkan sebesar 80 %, tetapi pada kondisi saluran campuran antara lining dan saluran tanah, maka efisiensi irigasinya sebesar 70%, sedangkan pada kondisi jaringan yang sebagian besar dibangun berupa saluran tanah maka efisiensi nilainya lebih rendah sebesar 65%.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here