Salah satu cara bertindak yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun ini adalah diversifikasi sumber pangan, diantaranya adalah aneka macam umbi. Bermacam-macam umbi pada yang kini dibudidayakan sebagai sumber pangan alternatif selain padi. Diantaranya adalah ubi kayu (singkong), ubi jalar dan yang sedang naik daun yaitu porang. Dalam budidayanya masih terdapat kendala yaitu serangan hama dan penyakit. Salah satu penyakit yang menyerang adalah busuk pada umbi. Penyakit ini dapat disebabkan oleh golongan jamur maupun bakteri. Pemahaman terkait penyakit busuk pada umbi ini sangat penting sebagai salah satu faktor untuk menentukan tindakan pengendalian sehingga kualitas dan produksi umbi tetap terjaga.


Suwandi, Direktur Jenderal Tanaman Pangan dalam arahannya kepada peserta webinar propaktani (5/12) di Jakarta menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk menjaga dan meningkatkan produksi adalah menangani hama penyakit selain itu juga dampak perubahan iklim. “Hal ini dapat ditangani dengan konsep 3 besar, yang pertama adalah membangun early warning system, yang kedua adalah antisipasi deteksi dini dengan langkah-langkah pencegahan terutamanya, kemudian mengembangkan sistem adaptasi dan mitigasi untuk meminimalisir resiko-resiko yang terjadi” papar Suwandi.


“Solusi untuk mengatasinya mengutamakan proses-proses yang ramah lingkungan. Diantaranya adalah gunakan pupuk organik, pupuk hayati, pestisida nabati, agensia hayati, gunakan  praktek-praktek yang ramah lingkungan. Jika harus menggunakan pestisida kimia adalah pilihan terakhir kalo sudah tidak ada solusi lain. Hal inilah yang disebut pertanian berkelanjutan” tambah Suwandi.


Sumartini, peneliti BRIN memaparkan bahwa ubi jalar banyak mengandung zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh seperti ubi jalar dengan  warna seperti wortel mengandung betakaroten, sedangkan yang berwarna ungu banyak mengandung aflatoksin yang berguna sebagai antioksidan bagi tubuh. Ubi jalar juga merupakan salah satu komoditas ekspor. Tentu saja salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk ekspor adalah bebas dari hama dan penyakit.


“Pada ubi jalar ada 5 penyakit yang disebabkan oleh cendawan/jamur dan umum ditemukan yaitu busuk lunak, busuk permukaan, busuk hitam, busuk hitam dari Jawa dan busuk arang. Pengendalian antara lain harus berhati-hati saat panen, jangan sampai membuat luka pada umbi dan jangan diletakkan di terik matahari saat panen, upayakan suhu penyimpanan 25°C, dan penggunaan fungisida nabati. Fungisida nabati yang dapat digunakan dari jenis empon-empon yang ada di sekitar kita, seperti bawang putih dan bawang merah. Serangga dan nematoda yang menyebabkan luka pada umbi juga membuka jalan pada cendawan untuk menyerang umbi.” Jelas Sumartini.

Pengendalian busuk permukaan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti menggunakan stek bibit tanaman bebas penyakit, hindari luka pada permukaan selama masa panen, rotasi dengan tanaman lain selama 5 tahun, gunakan alat simpan yang bersih.


Djoko Prasetiyo, akademisi Universitas Lampung menyampaikan bahwa Indonesia merupakan  produsen ubi kayu ke 5 di dunia setelah Thailand. Ubi kayu merupakan sumber karbohidrat, sebagai sumber pangan alternatif namun dalam budidayanya mengalami banyak permasalahan hama dan penyakit. Penyakit yang menyerang antara lain penyakit leles dan akar putih.


“Penyakit leles ini ditandai dengan  daun menguning, layu, rontok dan mati. Gejala lanjutannya ada pembusukan pada umbi. Penyebab leles ini kompleks, ada jamur fusarium, ada jamur aspergillus, ada jamur diplodia dan lain sebagainya. pada busuk yang disebabkan oleh akar putih jika umbi dicabut itu membusuk dan massa cenderung berkurang, jika dilihat lebih dekat pada umbi terdapat miselia warna putih. Penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus.” Ungkap Djoko.


Lebih lanjut, Djoko menjelaskan bahwa faktor utama yang mempengaruhi leles dan akar putih adalah kelembapan. Jika kelembapan tinggi akan mendorong perkembangan penyakit. “Seperti halnya yang disampaikan pak Dirjen, dalam pengelolaan penyakit ini yang penting adalah bibitnya dulu harus unggul dan tahan penyakit. Selanjutnya adalah lokasinya menghindari daerah tergenang, kemudian bagaimana mengolah lahannya, bahan tanam juga harus dipersiapkan dan panen yang merupakan titik akhir untuk mendapatkan keuntungan jika salah langkah malah bisa menyebabkan kerugian.” Tambah Djoko


“Yang paling utama harus dipegang adalah varietasnya. Varietas yang dipilih itu harus produksi tinggi, dan harus diikuti ketahanannya terhadap hama dan penyakit.” Tandas Djoko

Eriyanto Yusnawan, peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN memaparkan dari 200 spesies dari bangsa porang-porangan (Amorphophallus), terdapat paling sedikit 27 spesies yang native Indonesia. Enam spesies yang populer antara lain porang, suweg, iles-iles, walur, bunga bangkai dan A. gigas. Ciri khas dari porang adalah terdapat bubil/katak untuk perbanyakan diri dan terletak di ketiak daun.

“Budidaya porang ini simpel ketika ada di habitat aslinya yaitu hutan. Porang ini menjadi populer karena sangat toleran terhadap naungan. Dan jika dalam habitat aslinya porang ini cenderung tidak bermasalah dengan OPT, ada namun pada tingkat serangan yang dapat diabaikan.” Papar Eriyanto.

“Kenapa? Karena porang ini unik. Dia tumbuh ketika ada sinyal alam, hujan. Dan memasuki masa dorman ketika musim kemarau. Ada kandungan kimia yang dapat menyebabkan gatal, dan ini yg tidak disukai OPT. Kelebihan dari porang ini rendah input kimia.” Lanjut Eriyanto.

Konsep ekosistem tertutup, di bawah naungan adalah keunggulan dari porang. Jika ada serangan OPT pendekatan paling relevan adalah pengendalian preventif. “Ketika porang dibudidayakan secara intensif dilahan terbuka,diluar habitat aslinya maka keberadaan serangan OPT harus diwaspadai dan diantisipasi. Patogen penyebab penyakit pada umbi porang diantaranya adalah jamur dan bakteri. Yang paling banyak ditemukan di lapangan adalah dari golongan jamur tular tanah atau seed born pathogen. Jamur ini masuk karena luka pada umbi dan diperparah dengan keberadaan bakteri.” tegas Eriyanto.

Pengendalian busuk umbi pada porang Eriyanto menyarankan tindakan pembersihan lahan, pemilihan bahan tanam bebas patogen, jarak tanam tidak terlalu rapat, pembuatan drainase, eradikasi tanaman terserang, aplikasi jamur antagonis, dan penanganan pasca panen. “Aplikasi jamur antagonis seperti Trichoderma selain dapat mampu menekan keberadaan patogen tular tanah di sekitar perakaran namun juga mampu memicu pertumbuhan tanaman” tutup Eriyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here