Lalat buah merupakan hama penting pada komoditas hortikultura yang sangat menimbulkan kerugian secara ekonomi. Keberadaan lalat buah di Indonesia sangat penting untuk dipantau keberadaannya terutama keberadaan spesies lalat buah yang dapat menghambat ekspor buah dari Indonesia ke luar negeri. Pada bulan November 2022, Balai Besar Peramalan Organisme Penggangu Tumbuhan melakukan kegiatan monitoring lalat buah di wilayah Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi dan mengindentifikasi spesies lalat buah di wilayah Jawa Barat.

Monitoring lalat buah ini dilakukan dengan cara pemasangan perangkap lalat buah yang menggunakan atraktan methyl eugenol dan cue lure. Pemasangan perangkap lalat buah dilakukan pada areal pertanian, pekarangan rumah dan pinggiran hutan. Monitoring lalat buah ini dilaksanakan di delapan (8) Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Barat yaitu Bogor, Bekasi, Purwakarta, Bandung Barat, Kuningan, Majalengka, Indramayu dan Ciamis. Perangkap lalat buah ditempatkan pada 10 lokasi per kabupaten dimana setiap lokasi dipasang masing-masing 1 jenis perangkap dengan atraktan methyl eugenol dan 1 perangkap dengan atraktan cue lure. Perangkap tersebut dipasang pada ranting/cabang pohon atau tanaman pada ketinggian 1.5-2 meter dari atas tanah. Pemasangan perangkap lalat buah ini memperhitungkan kondisi angin, terlindung dari sinar matahari langsung, dan lubang masuk tidak tertutupi ranting dan daun sehingga memudahkan lalat buah untuk masuk ke dalam perangkap. Perangkap lalat buah diberi atraktan (1-2 cc) dan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 2-3 sendok makan per perangkap. Perangkap lalat buah ini dipasang selama 24 jam. Lalat buah yang tertangkap lalu dibungkus dengan tissu dan dimasukkan ke dalam plastik zipper lalu dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Berdasarkan hasil identifikasi, ditemukan setidaknya ada 10 spesies lalat buah di Jawa Barat yaitu Bactrocera dorsalis, B. carambolae, B. albistrigata, B. tau, B. caudata, B. calumniata, B. umbrosa, Zeugodacus cucurbitae, B. impunctata dan Dacus longicornis. Spesies lalat buah yang paling banyak ditemukan adalah B. dorsalis. Spesies lalat buah yang tertangkap dengan methyl eugenol adalah B. dorsalis, B. carambolae, B. umbrosa, Dacus longicornis dan B. impunctata sedangkan spesies lalat buah yang tertangkap oleh cue lure adalah B. tau, B. caudata, B. calumniata, dan Z. cucurbiatae, dan B. albistrigata. Populasi lalat buah yang  tertinggi ditemukan di Kabupaten Indramayu dan yang terendah ditemukan di Kabupaten Bandung Barat. Data ini menunjukkan bahwa serangan lalat buah di Jawa Barat, khususnya di daerah sentra tanaman buah seperti kebun mangga masih tinggi sehingga pengelolaan hama lalat buah secara terpadu dan pada areal yang luas atau area wide management (AWM) sangat diperlukan. Dalam monitoring ini, ada beberapa spesimen lalat buah yang perlu diidentifikasi secara lebih lanjut baik secara morfologi maupun secara molekuler terutama spesies lalat buah yang termasuk OPTK seperti Bactrocera occipitalis. Hasil monitoring lalat buah ini diharapkan dapat menjadi informasi yang penting bagi stakeholder terkait, terutama dalam pengelolan lalat buah di wilayah Jawa Barat.

Referensi

Drew, RAI dan Romig MC. 2010. Fruit Flies: Biology, Biosecurity, Pest Management and Taxonomy. International Centre for Management of Pest Fruit Flies, Griffith University, Australia. 225 p.

Drew, RAI dan Romig MC. 2016. Keys to The Tropical Fruit Flies of South-East Asia. CABI. London, UK.

Muryati, A. Hasyim, dan Riska. 2008. Preferensi spesies lalat buah terhadap atraktan metil eugenol dan cue-lure dan populasinya di Sumatera Barat dan Riau. J. Hort. 18(2):227-233.

Plant Health Australia. 2018. The Australian Handbook for the Identification of Fruit Flies. Version 3.1. Canberra, ACT. 157p.

Penulis: Willing Bagariang, SP, M.Si (POPT Muda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here