14-15 Februari 2023, Bertempat di Pandeglang dan Serang Dinas Pertanian Provinsi Banten mengadakan pengawalan kegiatan Perlindungan Tanaman tahun 2023 mengantisipasi kejadian Dampak Perubahan Iklim (DPI) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Kegiatan berupa pemantapan dampak pengaruh perubahan iklim terhadap kejadian yang mengurangi produksi padi dan kehilangan hasil akibat OPT.

Ketua panitia penyelenggara Taufik Dedi Purnama mengungkapkan perlunya keselarasan dari berbagai pihak untuk mengawal kegiatan perlindungan tanaman di Provinsi Banten sehingga peran bersama antara Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dapat terjalin dengan baik. Peserta berasal dari Petugas di Kecamatan-kecamatan yang berpeluang terjadinya gangguan DPI dan OPT baik komoditas tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M. Tauchid yang mengapresiasi kerja POPT dan Penyuluh sehingga keamanan produksi dapat terjaga, Pertanian merupakan penyangga kehidupan petani yang rata-rata penggarap, mereka mempunyai tanggung jawab terhadap keluarganya sehingga keberhasilan usaha budidaya padi sangat mereka harapkan, Pemerintah mencoba membantu dengan bantuan ternak dan itik agar kehidupan mereka lebih baik tutur Tauchid. Tauchid berbangga karena produksi padi 2022 Banten naik pada peringkat ke-8 menyalip pemerintah Aceh, Dinas kabupaten beramai-ramai untuk bisa mendapatkan penghargaan atas prestasi ini, setelah dilihat datanya Kabupaten Pandeglang urutan pertama yang naik 24 % disusul Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang.

Gandi Purnama sebagai narasumber dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan (Ditlin TP) menegaskan bahwa kegiatan perlindungan tanaman yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 6 tahun 1995 tentang perlindungan tanaman sehingga POPT melakukan pengamatan di lapangan merupakan amanat Undang-undang sehingga tidak boleh dihalang-halangi ketika mengamati baik dalam petak tetap maupun petak keliling. Sebagai upaya dalam penerapan penanganan DPI berbagai pilihan teknologi yang digunakan antara lain sumur suntik, biopori dan Pengaliran air (pipanisasi). Sektor pertanian merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca (GRK), karena itu ada peluang bagi Sektor Pertanian untuk menurunkan emisi GRK, lebih khusus Gandi mencontohkan bahkan sekalipun ternak Sapi mengaum dapat pula berkontribusi GRK dengan mengeluarkan gas CH4. Pengolahan kotoran ternak menjadi kompos penting untuk dilaksanakan. Di akhir pemaparannya, kegaitan di Provinsi Banten berupa Gerakan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (GPDPI) seluas 30 hektar, Penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PPDPI) sebanyak 1 unit, Dem Area DPI seluas 25 hektar dan Pengadaan pompa air sebanyak 3 unit.

Paparan berikutnya dari Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT) Rahmad Gunawan tentang perubahan iklim sekarang menjadi fakta yang diakui secara global, Iklim berpengaruh antara lain terhadap keanekaragaman serangga, biotipe serangga dan hama invasif yang harus diwaspadai. Food and Agriculture Organization (FAO) mempromosikan Pertanian Cerdas Iklim sehingga mendorong pengekatan Pengelolaan Hama Cerdas Iklim. Beberapa parameter iklim yang berpengaruh terhadap serangga antara lain suhu yang dapat meningkatkan kelimpahan populasi, Curah hujan yang dapat menambah atau mengurangi populasi OPT berupa pencucian air hujan ke daun dan CO2 yang mampu menurunkan kepadatan populasi serangga. Penting dalam budidaya pertanian adalah tentang pengambilan keputusan berbudidaya pertanian baik waktu penanaman, teknis budidaya dan pengendalian OPT menggunakan parameter cerdas iklim berupa pemanfaatan pertanian presisi dan Internet of Things (IoT). Pertanian presisi dengan memperhitungkan data tabular maupun spasial iklim, analisis tanah, penginderaan jauh sehingga menghasilkan keputusan yang tepat waktu, tepat tempat, tepat input (pupuk dan sarana lain) dan tepat jumlah (takaran). Penggunaan IoT dapat berupa pemasangan sensor ketinggian air tanah, kelengasan tanah, kelembaban tanah, arah angin, urah hujan dan kecepatan angin sehingga dapat diketahui dengan tepat kapan tanah membutuhkan penambahan air atau kewaspadaan terhadap datangnya hama dan penyakit.

Narasumber dari Ditlin TP Azis Purwoko menyampaikan bahwa kontribusi GRK dari sektor pertanian mencapai 14 % sehingga budidaya padi dengan penggunaan varietas rendah emisi dan penerapan konsep hemat air dengan mengurangi intensitas penggenangan. Penurunan emisi GRK dari peternakan melalui pengelolaan/pemanfaatan kotoran ternak, perbaikan ransum, dan pemberian supplement. Strategi penanganan DPI antara lain update pemetaan berupa akses informasi iklim dari BMKG, katam dan Siperditan, pengelolaan air (saluran/ penampungan/ biopori/ sumur), penggunaan varietas toleran genangan/ kekeringan, optimalisasi bantuan pompa, dan bantuan benih bagi yang mengalami puso. Lebih lanjut Aziz menjelaskan GPDPI adalah gerakan penangan DPI dengan melibatkan banyak pihak berupa stimulus operasional dengan pekerjaan pompanisasi, normalisasi saluran irigasi atau perbaikan sarana pengaliran / penampung air / biopori atau integrasinya. PPDPI merupakan pemberdayaan Petani dalam menerapkan upaya penanganan DPI di lahan melalui teknologi adaptasi spesifik lokasi dalam kegiatan pratanam, pasca tanam, evaluasi dan rencana tindak lanjut. Dem Area PDPI merupakan Metode percontohan penerapan penanganan DPI tanpa batasan wilayah administratif. Kegiatan Dem Area berupa pembuatan/perbaikan sumur suntik/ gali/ submersible, sarana pengaliran/ penampung air, biopori dan integrasinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here