Sudahkah Anda mendengar istilah Disruptive Agriculture, ya istilah ini diambil dari kata Disrupsi yang berarti fenomena adanya sejumlah perubahan masif yang mengubah sistem tatanan yang lama menjadi sebuah sistem baru, bila dikaitkan dengan dunia pertanian maka akan mempunyai makna sistem pertanian yang mengubah pola lama dengan paradigma baru dengan prinsip pokok yaitu peningkatan hasil produksi dengan biaya murah, cepat dan bisa diterima secara luas

Dari sekian banyak institusi yang berada dalam naungan Kementan maka BBPOPT adalah salah satu pionir yang mulai menerapkan Disruptive Agriculture, penerapan teknologi ini mulai di implementasikan oleh Gus Yuris (GYS) sebagai kepala BBPOPT

Apa yang dilakukan oleh GYS bukan sekedar mencoba, tetapi menerapkannya secara serius, upaya ke arah sana dibuktikan dengan membuat tim khusus serta mendatangkan para pakar pertanian dan ahli di bidangnya masing-masing

Pada tgl 09 Mei 2023, BBPOPT kembali mengadakan Forum Grup Discussion (FGD) yang diadakan secara hibrid, yaitu kopi darat dan virtual melalui kanal zoom meeting, even tersebut turut dihadiri oleh, Sumarjo Gatot Irianto penguji pada pusat Standarisasi Instrumen, Sam Herodian Dosen IPB, Ladiyani Retno W dari BPSI Tanah dan Pupuk, serta Joko Pitoyo dari BSIP MEKTAN dan Taufiq dari BALITKABI Malang.

Membuka acara Gus Yuris mengawalinya dengan sapaan dan ucapan terimakasih kepada semua yang hadir, karena telah mau ikut bergabung dalam mensukseskan project disruptive agriculture yang tengah ia usung, Ia berharap agar semua panelis bisa memberikan masukan dan kontribusi positif.

” Bapak ibu dalam kesempatan ini izinkan saya memohon bantuan sumbangsih pemikiran dan dukungan dari semuanya, saya berharap anda tidak memberikan daftar masalah yang saya butuhkan adalah daftar solusi” demikian sepenggal kutipan kata pembuka dari Gus Yuris.

Pada kesempatan pertama waktu diberikan kepada Gatot Iriyanto, menurut Gatot hal penting yang menjadi prioritas adalah perbaikan kondisi tanah, karena tanah adalah media tumbuhan untuk hidup, sehingga persiapan pengolahan tanah harus dilakukan dengan baik.

“Tanah ini adalah tempat dimana tanaman hidup, tanah yang baik adalah tanah yang mampu menyediakan semua unsur hara untuk tanaman, salah satu cara memperbaikinya adalah dengan menambahkan sejumlah pupuk organik ke dalam tanah, peran pupuk organik ini selain menambah nutrisi juga memperbaiki struktur tanah”, terang Gatot

Dilain sisi apabila nanti ditemukan serangan Organisme penggangu Tumbuhan (OPT), maka gunakan pestisida hayati untuk mengendalikan OPT , selain ramah lingkungan pestisida hayati ini bisa kita buat sendiri, dengan menggunakan bahan-bahan yang ada diskitar kita”, Ujar Gatot

Sementara itu Sam Herodian, menyarankan agar dicari role model serta pihak yang sudah mengaplikasikan disruptive agriculture dengan perpaduan penggunaan alat mekanisasi kekinian, “mungkin layak dicoba untuk menggunakan alat-alat mekanisasi yang terbilang baru, seperti penggunaan teknologi drone baik untuk penyemprotan bahan pengendali, pemupukan, maupun penyebaran benih, beber Sam.

Selanjutnya pakar tanah dan pupuk dari BPSI Ladiyana Eno, turut melengkapi paparan dari para narasumber sebelumnya, Ia sependapat bahwa untuk menambah nutrisi dan memperbaiki struktur tanah maka diperlukan penambahan pupuk organik.

Eno juga berkomitmen akan membantu untuk meneliti struktur dan kandungan tanah lahan BBPOPT, untuk keperluan tersebut pihaknya telah membawa tim untuk mengambil sampel tanah yang akan di uji.

“saya sudah mempersiapkan tim lapangan yang akan mengambil sampel tanah disini, untuk kemudian nanti akan diteliti kandungan unsur haranya, apabila sudah diketahui maka mudah bagi kita untuk mengambil tindakan apa yang diperlukan guna meningkatkan kesuburan dan daya dukung tanah”, tandas Eno.

Bahkan Eno menawarkan Tim Detaserring balittanah untuk menjadi pendamping selama 6 bulan di project Disruptive agriculture BBPOPT, tentu saja ini adalah tawaran yang menarik, sehingga tuan rumah menyambutnya dengan senang hati.

Perwakilan dari BB BSIP Mektan, Joko Pitoyo, turut juga memberikan masukan, bahwa salah satu permasalahan lapang di lahan BBPOPT adalah adanya perbedaan level ketinggian permukaan tanah, menyebabkan pengolahan
tanah menjadi terkendala, tidak rata sehingga menyulitkan dalam pengelolaan selanjutnya.

Joko kemudian menyarankan agar dilakukan Releveling, ” hemat saya alangkah lebih baik kalau lahannya dilakukan releveling kembali, supaya ketinggian antar lokasi bisa sama, kalau sudah rata maka drainase akan lancar dan air mampu menjangkau seluruh area pertanaman tanpa kendala”, ungkapnya

Dalam kesempatan yang sama, Taufiq peneliti senior dari BALITKABI menjelaskan, khusus untuk budidaya kedelai Ia menyarankan agar kualitas benih dipilih yang benar-benar bagus, ” Bapak Ibu harap betul-betul diperhatikan, terkait benih pastikan agar benih yang terpilih adalah benih yang mempunyai kualitas baik, dengan tingkat daya tumbuh sebesar 80 % apapun itu varietasnya, supaya nantinya bisa tumbuh dengan baik dan seragam.

Taufiq menambahkan, “apabila tanaman kedelai akan ditanam di lahan bekas sawah, maka tidak perlu dilakukan olah tanah terlebih dahulu, cukup ditugal dan ditanam tanpa olah tanah, sisa-sisa jerami yang ada nantinya bisa menjadi penekan gulma dan lama-lama menjadi kompos”, tutup Taufiq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here