Ciamis, 25 Mei 2023 – Dalam upaya mendorong pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) bekerjasama dengan Komisi IV DPR menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) dengan Tema: “Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan”

Bimtek yang diadakan selama 3 hari ini dilaksanakan di Desa Kalapasawit, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, tak kurang dari 85 peserta turut hadir mengikuti acara, terdiri dari para petani, pemuda tani, wanita tani perwakilan poktan dan gapoktan, aparat desa serta petugas lapangan.

Wakil komisi IV DPR RI Asep Maoshul Affandy dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik yang dapat menggantikan pupuk kimia yang sekarang harganya mahal. Beliau juga menekankan pentingnya penggunaan jerami sebagai bahan baku kompos untuk memperkaya kandungan nutrisi tanah.

Menurut Asep, Pupuk yang berasal dari limbah rumah tangga dapat menjadi alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan daripada pupuk kimia yang harganya mahal. Selain itu, jerami sebagai salah satu sisa panen pertanian sebaiknya tidak dibakar, melainkan dimanfaatkan untuk pembuatan kompos sebagai pupuk organik.

Lia Hamidah Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis yang juga bertindak sebagai tuan rumah mengungkapkan kegembiraanya, atas kunjungan dan bimbingan teknis yang diadakan di wilayahnya, Lia berharap agar kegiatan ini tidak berhenti sampai disini, tetapi bisa berlanjut dan dapat diagendakan kembali.

Aris Puji Sunarso mewakili BBPOPT, menyambut baik acara yang digelar bersama dengan komisi IV DPR ini, Ia menyampaikan terimakasih kepada semua yang hadir, terkhusus kepada Komisi IV yang telah mau terjun langsung ke lapangan, dan bersama-sama beraudiensi dengan petani, untuk memberikan arahan, gagasan, ilmu serta motivasi.

“Terimakasih pak Asep, juga tak lupa bapak ibu semua yang hadir, semoga kita semua dalam keadaan sehat dan ada dalam lindungan Alloh swt, Alhamdulillah di pagi hari yang cerah ini, saya bisa berkumpul dengan bapak ibu para pejuang pangan yang selalu gigih untuk terus memberikan makan seluruh rakyat indonesia, tanpa bapak ibu kami tak akan bisa berbuat apa-apa, hidup petani… “, seru Aris menyemangati.

Ia kemudian melanjutkan, “Besar harapan saya bimbingan teknis ini bisa bermanfaat serta menambah keilmuan dan keahlian bapa ibu dalam bertani, jangan sungkan untuk mengemukakan pendapat, berdiskusilah supaya suasananya lebih hidup, wawasan kita akan terbuka bila saling sharing dan tukar pengalaman, mudah-mudahan selepas ini pertanian di Ciamis akan lebih maju dan menghasilkan produk yang berkualitas…Aamiin”, tutup Aris

Umi Kulsum, yang menjadi narasumber dalam kegiatan bimtek ini, menerangkan, “ada empat faktor kunci yang mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan. Dengan mengadopsi pendekatan ini, kita dapat mengurangi penggunaan pestisida kimiawi dan pupuk anorganik yang berpotensi merusak lingkungan serta meningkatkan kesehatan dan produktivitas pertanian”, terang Umi.

Wanita yang sehari-hari bekerja di BBPOPT sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Madya ini mengatakan, ” Faktor yang pertama adalah perbaikan biota tanah. Tanah yang subur dan sehat merupakan kunci bagi pertumbuhan tanaman yang optimal. Beberapa cara untuk memperbaiki biota tanah adalah dengan menggunakan pupuk organik, dan tidak membuang bahan-bahan yang mencemari lingkungan. Pertanian ramah lingkungan berusaha memperbaiki kualitas tanah dan memelihara keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya”, ungkap Umi

” Faktor kedua adalah pengurangan penggunaan pupuk anorganik, pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air, merusak ekosistem air, serta mempengaruhi kualitas produk pertanian”, imbuhnya

Selanjutnya adalah penggunaan bibit yang sehat juga menjadi salah satu fokus penting dalam pertanian ramah lingkungan. Umi Kulsum menekankan pentingnya memilih bibit tanaman yang tahan terhadap penyakit dan serangga pengganggu, sehingga meminimalkan penggunaan pestisida. Dengan demikian, petani dapat mengurangi dampak negatif terhadap organisme non-target sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Terakhir, Umi menegaskan pentingnya pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Dalam praktik pertanian ramah lingkungan, pendekatan Pengendalian Hama Terpadu digunakan untuk mengelola OPT, termasuk metode biologis seperti penggunaan musuh alami dan penanaman tanaman refugia yang menjadi mikro habitatnya. Penggunaan pestisida kimia adalah alternatif terakhir apabila sudah mencapai ambang kendali dan ambang ekonomi dimana cara-cara lain sudah tidak bisa diandalkan. Tutupnya

Pertanian ramah lingkungan telah mendapatkan pengakuan luas karena manfaatnya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesehatan manusia. Pertanian ramah lingkungan bukan hanya menjadi tren, tetapi juga menjadi kebutuhan untuk masa depan pertanian yang berkelanjutan dan menyelamatkan planet kita dari kerusakan, Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here