Ngawi, 20 Juni 2023 – Melansir berita dari salah satu portal media yang menyebutkan bahwa terjadi serangan Wereng dan Tikus seluas 200 hektar di kabupaten Ngawi, maka Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) langsung merespon.

Mendengar informasi tersebut Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto (GYS) segera bertindak cepat dengan menerjunkan tim untuk berkoordinasi dan memverifikasi sekaligus melakukan tindakan real dilapangan baik berupa gerakan pengendalian maupun bimbingan teknis, “Kepada teman-teman pers kami ucapkan terimakasih atas informasi yang diberikan, kami selalu terbuka menerima informasi dan masukan dari siapa saja, walau demikian kami juga harus bertindak objektif untuk terlebih dahulu kroscek lapangan, supaya kami bisa memastikan kebenaran dan tindakan apa yang harus kami lakukan, sebab penyebab kegagalan panen dilapangan itu banyak, ada karena hama penyakit ada juga karena faktor lingkungan dan dampak perubahan iklim (DPI), hama penyakit juga banyak jenisnya dan masing-masing berbeda juga tindakan pengendaliannya.” Ujar GYS

“Untuk itu saya telah membentuk Tim guna menyelesaikan masalah ini, tugas mereka adalah berkoordinasi dengan dinas pertanian dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) setempat, dilanjutkan analisis lapangan untuk kemudian melakukan pengendalian dan bimbingan teknis di lapangan, o iya kami juga memberikan bantuan berupa pias Trichogramma untuk mengendalikan hama penggerek batang padi, Trichogramma ini adalah musuh alami yang efektif mengendalikan hama penggerek, karena dia adalah mahluk hidup maka nantinya bisa berkembang biak terus menerus dan dan bekerja setiap saat”, tambahnya.

Ia melanjutkan, “saya juga telah membangun komunikasi dengan kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur pak Puji Sanyata, terkait masalah ini, alhamdulillah kami sudah mencapai kesepakatan untuk bersama-sama mengamankan dan menyelamatkan pertanaman di Ngawi khususnya dan Jawa Timur pada umumnya, supaya produksi pada MT 2023 ini tetap bisa dilakukan”, pungkas GYS

Setiba di Ngawi, tim BBPOPT langsung bergerak, pertama melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan POPT setempat, kemudian dilanjutkan dengan monitoring dan verifikasi lapangan di titik yang diyakini sebagai lahan yang terdampak yaitu Dusun Ingasrejo, Desa Beran, Kecamatan Ngawi.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan analisis data, beberapa temuan penting telah teridentifikasi. Pertama, luas serangan OPT padi yang dilaporkan sebesar 200 hektar tidak sepenuhnya mengalami gagal panen. Meskipun demikian, kondisi tanaman yang gagal panen disebabkan oleh beberapa faktor yang kompleks.

Antara lain adanya masalah drainase di daerah tersebut. Limpahan air dari saluran irigasi yang mengalami kerusakan menyebabkan genangan air yang berkepanjangan di lahan, sehingga tanaman tidak bisa berkembang dengan baik, hal ini juga mengakibatkan penurunan pH tanah menjadi asam (pH 4,5) dan Kurangnya penambahan bahan organik sehingga kesuburan tanah menurun, serta penggunaan pestisida kimia yang tinggi yang juga membunuh hama non-sasaran atau musuh alami, kerap juga dijumpai petani mencampur beberapa bahan kimia yang diaplikasikan secara bersamaan membuat bahan pengendali menjadi tidak efektif.(wawancara petani/penggarap bapak Sumarsi)

Pola budidaya padi di lokasi tersebut juga memiliki peran dalam serangan OPT. Sebagian besar petani di daerah tersebut adalah penggarap atau penyewa tanah, sehingga pola tanam tidak serempak dan beragamnya varietas yang ditanam menjadi faktor yang mempengaruhi serangan OPT. Varietas yang dijumpai antara lain Cimelati, Inpari 32, Inpari 48, Membramo, dan varietas MR.

Selain itu para petani tidak mengindahkan anjuran budidaya padi ramah lingkungan yang seharusnya telah disepakati bersama petugas. Hal ini termasuk penggunaan agens pengendali hayati dan biopestisida untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

Dalam upaya mengatasi serangan OPT, berbagai langkah tindak lanjut telah dilakukan diantaranya melakukan demplot area, Pembagian Mikro Organisme Lokal (MOL), Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), Agens Pengendali Hayati (APH), Pestisida Nabati (Pesnab) kepada para petani, gerakan pengendalian, kemudian bimbingan teknis petani , baik pertemuan rutin, bulanan, mingguan atau person to person, sebagai bagian dari pendampingan untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan budidaya padi ramah lingkungan.

Untuk tindak lanjut kedepan akan dikukan kegiatan Sekolah Lapang PHT (Pengelolaan Hama Terpadu) di lokasi yang terkena serangan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada petani dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman secara terpadu, serta akan dilakukan penambahan bahan pembenah tanah seperti MOL, PGPR dan pupuk organik guna meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas pertumbuhan tanaman.

Gerak cepat yang dilakukan BBPOPT adalah implementasi dari arahan Dirjen Tanaman Pangan Suwandi yang selalu berpesan agar petugas lapangan selalu mendampingi dan memberikan rasa aman kepada para petani di daerah. juga himbauan dari menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo, supaya selalu memastikan bahwa kondisi lapangan harus aman dari gangguan OPT dan DPI supaya target produksi bisa tercapai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here