Sidoarjo, 05 Juli 2023 – Kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di BULOG Sidoarjo, yang dilangsungkan pada hari ini merupakan upaya dari komisi IV guna  mendukung ketersediaan pangan dalam program bantuan pangan pemerintah di provinsi Jawa Timur. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pimpinan komisi, Gubernur Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Timur, pejabat pemerintah, Dirjen PKH Kementerian Peternakan, Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian diwakili oleh Balai Besar Peramalan OPT, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, PT. Berdikari dan perwakilan dari berbagai lembaga terkait.

Direktur Human Capital Perum BULOG, Purnomo Sinar Hadi, menyampaikan informasi terkait kinerja BULOG dan kondisi stok pangan. Hingga bulan Juli 2023, BULOG telah melakukan pengadaan dalam negeri sebesar 692.000 ton dengan harga fluktuatif di gudang BULOG. Harga pengadaan beras ditetapkan pada Rp.9.950, sedangkan harga pasaran berkisar antara Rp.10.300 hingga Rp.10.400. Pada tahun 2023 direncanakan impor beras sebanyak 2 juta ton dari Vietnam dan Thailand.

Stok beras yang tersedia terdiri dari stok dalam negeri, stok luar negeri, dan stok komersial. BULOG juga memiliki stok komoditas lain seperti tepung terigu, minyak goreng, daging sapi, gula pasir, telur, dan daging kerbau. Program bantuan pangan di seluruh wilayah Indonesia telah terealisasi 100%, kecuali di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 96% dan Papua sebesar 82%.

Pimpinan Komisi IV, I Made Urip dalam sambutannya menjelaskan bahwa kunjungan kerja ini dilakukan untuk melakukan pengawasan terhadap kebijakan yang telah dibuat di Provinsi Jawa Timur terkait ketersediaan pangan. Komisi IV memiliki mitra kerja dengan Kementerian Pertanian dan berharap dapat mendapatkan masukan dari masyarakat terkait kondisi pertanian saat ini. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada impor beras.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, menyampaikan bahwa BULOG ditugaskan untuk menyerap 2,4 juta ton beras. Namun, hingga saat ini penyerapan dalam negeri baru mencapai 700.000 ton, jauh di bawah target. BULOG juga dihadapkan pada tantangan dalam menghadapi kekurangan stok jagung sebagai bahan pakan ternak. Selain itu, Arief menjelaskan bahwa importasi beras merupakan pilihan yang sulit, sehingga hingga semester pertama hanya terlaksana 500.000 ton dari rencana 2 juta ton.

Pada kesempatan ini diadakan pula sesi diskusi, Djarot Saiful Hidayat mengawali dengan pertanyaan terkait dengan pengaruh fenomena iklim El-Nino dan situasi politik pada cadangan beras pemerintah. disusul oleh Darori Wonodipuro, mengenai tingginya biaya dalam bertani dan kurang optimalnya produktivitas petani. lalu disusul oleh Dwita Ria Gunadi, mengenai rencana importasi beras dan penyikapannya terhadap sisa stok dan percepatan tanam petani.

Menanggapi hal tersebut Purnomo menjawab bahwa puncak fenomena El-Nino diperkirakan terjadi pada bulan Agustus-September, di bulan ini sudah diupayakan untuk percepatan tanam. sedangkan Kenaikan harga yang terjadi merupakan hasil kondisi eksternal yang tidak dapat dihindari. kemudian Badan Pangan Nasional berusaha melibatkan berbagai mitra terkait dalam mengatasi masalah ini. Di sisi lain, alokasi anggaran untuk sektor pertanian masih rendah dibandingkan dengan sektor infrastruktur dan bidang lainnya. Terkait pupuk subsidi, memang sulit namun itu bukan jadi masalahnya, tetapi pupuknya yang penting ada, dan kenyataannya petani mau membeli pupuk komersial. Untuk pupuk NPK, P dan K dari luar sedangkan N kita surplus. Tutup Purnomo

Sebagaimana diketahui beberapa waktu yang lalu Menteri pertanian telah mewanti-wanti kepada seluruh jajarannya, terhadap ancaman di 2023 khususnya mewaspadai serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan perubahan iklim ekstrem, karena akhir-akhir ini cuaca dan iklim sangat sulit untuk di prediksi, baik itu berupa elnino maupun lanina.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi telah mengambil langkah preventif guna menghadapi ancaman perubahan iklim, diantaranya adalah gerakan percepatan tanam dan penggunaan varietas yang tahan cekaman serta kekeringan, diharapkan hal tersebut bisa meminimalisir kegagalan panen.

Adapun terkait OPT, Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto menyampaikan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat kewaspadaan serangan OPT kepada  Seluruh Dinas Pertanian Provinsi yang berisi data kejadian serangan OPT, angka prakiraan luas serangan OPT dan juga rekomendasi penanganan OPT tersebut. “Kami mengharapkan melalui surat kewaspadaan ini, maka kita secara bersama-sama dapat melakukan penanganan dini dan pengelolaan OPT dengan prinsip PHT (Budidaya tanaman sehat, pelestarian musuh alami, pengamatan rutin dan petani sebagai ahli PHT) sehingga serangan OPT dapat ditekan dan dikendalikan”, terang Yuris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here